Tangga atau balatuk pada Ruma Gorga kalau diamati ada keunikannya dan juga ada makna yang tersimpan didalamnya. Keunikan itu dapat dikatakan tentang jumlahnya selalu ganjil, namun ada juga balatuknya yang jumlahnya genap namun rumah tersebut tidak biasa disebut rumah adat batak. Angka ganjil adalah angka yg diturunkan oleh nenek moyang Bangsa Batak.
Perlu dilakukan pembedaan antara
produk yang memenuhi standar, yang aman, dan yang dirasakan aman. Pada umumnya,
terdapat tiga jenis keadaan keselamatan terhadap suatu produk antara lain
yaitu; Keselamatan normatif digunakan untuk menerangkan produk atau
desain yang memenuhi standar desain, Keselamatan substantif digunakan
untuk menerangkan pentingnya keadaan aman, meskipun mungkin tidak memenuhi
standar, Keselamatan aman dan nyaman digunakan untuk menerangkan keadaan
aman yang timbul dalam persepsi orang. Sebagai contoh adalah anggapan aman
terhadap keberadaan rambu lalu lintas. Namun, rambu-rambu ini dapat menyebabkan
kecelakaan karena menyebabkan pengemudi kendaraan gugup.
Menurut kepercayaan Kristen tidak ada
orang yang dapat memperoleh keselamatan melalui usaha mereka sendiri, baik itu
dengan ritus-ritus, perbuatan baik, persembahan, meditasi atau cara-cara
lainnya. Keselamatan hanya bisa diterima karena telah diberikan secara
cuma-cuma oleh kematianYesus di kayu salib. Untuk menerima keselamatan pertama-tama
seseorang harus mengakui keberadaannya yang berdosa terlebih dahulu, kemudian
diikuti dengan penerimaan karya penebusan Kristus, yang disebut sebagai "pertobatan".
Istilah "pertobatan" memiliki makna lebih dari sekedar menyesali
perbuatannya yang salah. Pertobatan harus disertai dengan perubahan mentalitas.
Keselamatan berasal dari anugerah Allah.
Perjanjian
Lama menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya adalah berdosa, dan
menceritakan tentang perjanjian yang diberikan Tuhan kepada umat pilihanNya.
Perjanjiannya termasuk Perjanjian kepada Abraham, yaitu
bahwa melalui Abraham semua bangsa di bumi akan diberkati. Tuhan menunjukkan
karya penyelamatannya di sepanjang sejarah Israel dan juga
menjanjikan Mesias
yang akan menyelamatkan manusia dari kuasa dan hukuman dosa. Sosok Mesias
tersebut dipenuhi oleh Yesus yang akhirnya mengalahkan seluruh karya Iblis,
termasuk penderitaan, penyakit, dan kematian. Di dalam Perjanjian
Baru dijelaskan bahwa "karena kasih karunia [kita] diselamatkan oleh
iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil
pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri." Efesus
2:8-9. Orang yang diselamatkan diampuni dosanya dan akan menerima
hidup yang kekal. Mereka disebut sebagai anak-anak Allah dan menerima Roh Kudus
yang memampukan mereka untuk lahir
baru. Amin
a.Sangat
perlu kita ketahui supaya kita dapat mengenalnya dalam kehidupanm kita
sehari-hari dengan mengenalnya, kita dapat melawan dan menghidarinya.
b.Menurut
Kej 4.7 : dosa adalah musuh yang setiap saat mengintip. Selalu menggoda
manusia, namun Tuhan mengatakan : “engkau harus berkuasa atasnya”!
sehingga Rasul Petrus memperingatkan para murid-muridNya atau pengikut
Yesus agar “berjaga-jaga, lawanmu iblis, berjalan berkeliling sama
seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat
ditelannya”. Petrus berkata kemudian : “ Lawanlah dia dengan iman yang teguh “(ay 9). Senjata yang paling ampuh tidak lain daripada iman.
c.Sifat
dosa, selalu bersembunyi, dia sangat licik. Tidak mau menunjukkan . dia
selalu berlindung dibelakang perbuatan yang tampaknya baik. Kejahatan
biasanya menjelma dalam perbuatan yang sementara dilihat baik. Dia
tidak mau menunjukkan hakekatnya yang asli; sebagai contoh : Iblis
menggoda Tuhan Yesus dipadang belantara, godaannya tampaknya indah
sekali: dibawa ke atas gunung, serta menjanjikan akan memberikan semua
harta yang megah pada Yesus asalkan Yesus mau sujud menyembah dia.
Nampaknya baik, isinya jahat. Sewaktu Yesus lapar, iblis menawarkan
agar batu itu dijadikan roti, nampaknya baik, seolah-olah turut
merasakan kelaparan Yesus, tetapi isinya jahat. Iblis membawa Yesus ke kota
suci diatas menara Bait Allah. Iblis dengan kelicikannya menggoda Yesus
membuat tanda ajaib dengan menerjunkan diriNya justru malaikat-malaikat
telah akan segera menangkapnya. Kata-kata itu nampaknya baik, tetapi
maksudnya jahat.
Dosa
tidak selalu menyatakan diri dalam perbuatan-perbuatan jahat seperti
membunuh,mencuri, dsb. Tetapi dengan segala kelihaiannya, dia berusaha
agar manusia terperdaya dengan caranya. Kita coba dulu menelusuri gaya dosa itu menurut Alkitab :
Dalam Perjanjian Lama:
Dosa adalah: Ketidakmauan berbicara dengan Allah(Kel 20.20). Israel tidak mau berbicara dengan Tuhan, mereka takut.
Dosa adalah : Kesalahan, mulut manusia mempersalahkan dia menjadi berdosa (Kel 15.5).
Dosa adalah : Pemberontakan terhadap Tuhan ( I Raja 12.9).
Dalam Perjanjian Baru:
Dosa adalah :Pelanggaran akan hukum Allah ( I Yoh 3.4)
Dosa adalah : Anomia atau perbuatan tanpa kasih ( I Yoh 4.8)
Dosa adalah : Kejahatan ( I Yoh 5.17)
Tabiat
dosa dengan semua kenyataannya sudah digambarkan dalam kej 3,
yakni:membuat manusia membenci Allah dan berakibat membenci sesama
manusia. Kebencian itu ditumbuhkan dengan bibit berupa :
Keragu-raguan
Ketidak percayaan
Keinginan
Cobalah
membaca buku Kej 3, lalu tulis satu tulisan kecil, dimana abc dicakup
dan mencakup pengertian bibit dosa itu dengan implikasinya dalam
dosa-dosa yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari.
2. Perkembangan Dosa dan akibatnya :
Seluruh
manusia telah berbuat dosa dan telah kehilangam Kemuliaan Allah. Roma
3.9-23 bahkan disebut, semua telah terkurung dibawah kekuasaan dosa
(Gal 3.22). Sarx atau daging itulah yang telah dikuasai dosa Roma 5,12,
lewat daging dosa itu menyebar dimana Adam & Hawa dengan dosanya
berakibat juga pada semua orang yang memiliki sarx atau daging itu.
Inilah yang disebut “dosa yang bersifat umum”. Dosa ini menjadi bibit
bagi dosa-dosa yang diperkembangkan orang-orang sendiri-sendiri,
sehingga ada orang-orang yang diperbudak dosa itu. Itulah sebanya maka
Rasul Paulus mengatakan bahwa dengan dosa itu menyeret dirinya sendiri
ke dalam perbudakan sehingga ia harus menaklukkan dirinya kepada
tuntutan-tuntutan dosa ( Roma 6.13 ff ). Dalam perkembangan dan akibat
dosa itu dalam aspek kehidupan manusia nampak dalam hal 2 bentuk sesuai
dengan ajaran Paulus yaitu :
Dosa itu bergerak dari dalam hati manusia dan menampakkan dirinya dalam perbuatan di luar manusia itu sendiri.
Dosa itu bergerak dari luar dan menyebar ke dalam hati manusia. Dia
membenci sesuatu, tetapi tetap dilakukan. “ karena bukanlah apa yang
dikehendakinya diperbuat, tetapi apa yang dibenci itulah yang diperbuat
(Roma 7.14).
Seluruh
manusia telah berbuat dosa dan telah kehilangam Kemuliaan Allah. Roma
3.9-23 bahkan disebut, semua telah terkurung dibawah kekuasaan dosa
(Gal 3.22). Sarx atau daging itulah yang telah dikuasai dosa Roma 5,12,
lewat daging dosa itu menyebar dimana Adam & Hawa dengan dosanya
berakibat juga pada semua orang yang memiliki sarx atau daging itu.
Inilah yang disebut “dosa yang bersifat umum”. Dosa ini menjadi bibit
bagi dosa-dosa yang diperkembangkan orang-orang sendiri-sendiri,
sehingga ada orang-orang yang diperbudak dosa itu. Itulah sebanya maka
Rasul Paulus mengatakan bahwa dengan dosa itu menyeret dirinya sendiri
ke dalam perbudakan sehingga ia harus menaklukkan dirinya kepada
tuntutan-tuntutan dosa ( Roma 6.13 ff ). Dalam perkembangan dan akibat
dosa itu dalam aspek kehidupan manusia nampak dalam hal 2 bentuk sesuai
dengan ajaran Paulus yaitu :
Dosa itu bergerak dari dalam hati manusia dan menampakkan dirinya dalam perbuatan di luar manusia itu sendiri.
Dosa itu bergerak dari luar dan menyebar ke dalam hati manusia. Dia
membenci sesuatu, tetapi tetap dilakukan. “ karena bukanlah apa yang
dikehendakinya diperbuat, tetapi apa yang dibenci itulah yang diperbuat
(Roma 7.14).
3. Apakah ada tingkatan-tingkatan dosa ?
Dalam Alkitab, seolah-olah ada perbedaan dosa itu. Tetapi bukan menggaris bawahi tingkatan-tingkatannya.
Dalam
P.Lama, ada dosa-dosa yang sesaat terjadi dan ada dosa yang
disegaja(Mzm 19,13 dan Bil 15.27-31). Dalam P.Baru pun ada nampak
seolah-olah diperbedakan, ada dosa cabul, mabuk, fitnah, menipu ( I
Kort 6.9-10; Gal 5.21). Ada juga dosa yang tidak disegaja, namun
demikian, tidak perlu diperdebatkan secara timbangan dengan mengatakan
ada dosa ringan dan dosa berat. Dosa bagaimanapun jenisnya, tetap tidak
berkenan pada Tuhan dan tetap menerima murkah Tuhan. Namun, betapapun
keadaanya, tetap dapat diampuni Tuhan (Ibrani 4.16). tetapi ada dosa
yang tidak dapat diampuni, yaitu dosa yang menghujat Roh Kudus (Mat
12:31; Mark 3.24 dan Luk 12.10), maksudnya : “ dengan sengaja menolak
pernyataan Roh Kudus bahkan pernyataan Roh Kudus itu dianggap sebagai
karya setan. Dengan demikian, dapat kita simpulkan sebagia berikut,dosa
menghujat Roh Kudus yang tidak terampuni, adalah : “ Jika Roh Kudus
karena karya peneranganNya telah memberikan keyakinan kepada seseorang,
bahwa Yesus Kristus adalah Jurus’lamat yang datang dari Allah, padahal
kesaksian itu dengan sengaja ditolak, bahkan justru dipandangnya
sebagai datang dari setan, orang itu melakukan dosa yang disebut “dosa
menghujat Roh Kudus”.
Tiga tokoh yang kita lihat dari nats kita; Eli yang sudah tua, Samuel yang masih Muda dan suara Tuhan yang memanggil Samuel.Eli yang sudah tua dan rabun, tetap setia dalam membimbing Samuel bagaimana ia mendidiknya supaya mengantikannya kelak. Kepekaan Samuel atas situasi membuatnya semakin memahami apa yang akan ia lakukan kelak sebagai pelayan dalam Bait Allah. Dan suara yang menguatkan penyertaaan Tuhan walaupun ia masih muda ditempatkan pada pelayanan yang akan diembannya di kemudian hari.
Kita hidup di dunia ini diperhadapkan pada berbagai suasana yang kadang kala membingungkan. Banyaknya suara yang menyuarakan kedamaian, cinta kasih dan kemudahan-kemudahan yang tidak jelas arahnya kemana tujuannya. Ada begitu banyak suara-suara yang sering membuat kehidupan manusia itu tidak mampu membedakan mana suara Tuhan dan mana suara dunia ini. Dalam situasi kehidupan sekarang banyak hal-hal yang memperdengarkan sesuatu kepada kita, menggoda kita untuk bertindak. Suaranya sangat manis tanpa kita sadari justru menghasut hasrat dan keinginan kita. Perlu kehati-hatian dalam memaknai suara-suara yang datang dari dunia karena tidak selalu berbuah kebaikan.
Seorang hamba yang baik tidak mementingkan kebutuhan dirinya sendirinya. Ia sadar akan tugasnya dan siap melaksanakan apa yang hendak diperintahkan oleh tuannya. Demikian juga sebaliknya bahwa seorang tuan yang baik juga memperhatikan kenyamanan hambanya. Tidak egois tetapi memperlakukan hambanya sebagai manusia sama seperti dirinya.
Nats (1 Sam 3.1-10) kita kali ini menceritakan bagaimana posisi Samuel yang diganggu oleh suara Tuhan, yang pada awalnya ia tidak mengetahui bahwa itu adalah suara Tuhan. Namun walaupun demikian, ia tetap siap-sedia menjawab akan suara itu, ini boleh kita lihat dari pernyataannya, pada ayat terakhir ”Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar”(ay 10). Pada awalnya kehadiran suara itu tidaklah dimengerti olehnya, ia hanya berfokus pada Eli ”Ya bapa, bukankah bapa memanggil aku?”(ay 5).
Hawa jatuh kedalam dosa karena ia lebih mendengar iblis. Adam ikut terlibat dalam dosa tersebut karena mendengar perkataan Hawa. Mendengarkan manusia tidak selalu mendatangkan kebenaran. Manusia sering memperdengarkan kesesatan, tetapi Tuhan memperdengarkan keselamatan. Mendengarkan manusia menghadirkan keletihan dan rasa palsu, tetapi dengan mendengar Tuhan akan mendatangkan kelegahan. Kemanakah pendengaran kita arahkan?Menghambakan pendengaran terhadap idiologi, paham, budaya yang didengungkan, atau sebaliknya kepada Tuhan. Mendengar kepada Tuhan adalah solusi mengatasi seluruh persoalaan hidup, usaha menata keseimbangan dan tindakan manjaga harmoni. Amin
Dari nats Markus 1.4-11 kali ini adalah dua topik yang dibahas pada minggu I setelah Epipahanis kali ini, salah satunya ialah; Ajaran dan khotbah Yohanes Pembaptis yang menyatakan untuk melakukan ”Pertobatan” (Mrk 1.4), dan yang kedua; ”kepadaMulah Aku berkenan” (Mrk 1.11). Dari kedua topik ini kita mengawali kehidupan pada tahun 2012 ini dengan memahami bahwa buah dari Kasih Tuhan yang mengantarkan kita untuk menjalani kehidupan yang belum tauh apa yang akan kita hadapi pada tahun 2012. Namun walaupun itu masih dalam tahap untuk menjalani tahun 2012, namun ada yang akan kita lakukan yaitu; melihat kebaikan Tuhan yang kita rasakan pada tahun 2011 dan kekuatan Tuhan menentukkan langkah kita bagi anak-anakNya. Apa saja yang boleh dipertontongkan hidup bertobat dan bagi orang dikasihi Tuhan?
vHidup dalam kesalehan
Kadang masalah kesalehan atau ketaatan menjadi ”barang asing” bagi sebagian orang Kristen. Ada berbagai alasan yang diajukan untuk tidak taat, misalnya, ”yang penting kan hatinya.” atau alasan lain, ”Saya tidak mau terjebak sehingga kembali ke PL, hidup di bawah hukum.” Tentu saja ini alasan yang mengada-ada. Bukankah orang yang sungguh-sungguhg percaya dan menerima Yesus di dalam hatinya akan nampak dari hidupnya saleh atau taat? Kesalehan perlu sejalan dengan beriman kepada Yesus. Sebaliknya, kesalehan menjadi sia-sia ketika seseorang tidak mau percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Di samping itu, kesalehan sangat berguna di dalam kaitannya dengan kesaksiaan dan pekabaran Injil. Mari tunjukkan iman kita di dalam kehidupan yang saleh dan taat, bukan sekedar percaya!
vRendah hati
Rendah hati itu tidak mudah, sebab di dalam diri manusia ada keinginan untuk dihargai dan menghargai diri sendiri secara berlebihan. Apalagi jika sisi luar mendukung untuk dihargai, misalnya, dia orang yang tampan atau cantik, dia orang yang pandai, dia mempuyai banyak harta, dia mempunyai jabatan. Di samping itu, kesulitan lain untuk bisa rendah hati adalah pikiran yang salah, yaitu kalau nanti merendahkan hati akan dianggap lemah dan semakin direndahkan orang lain. Tuhan menginginkan kita untuk rendah hati, seperti nasihat Petrus, ”Rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab; Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihi orang yang rendah hati” (1 Petr 5.5)
vBebas dari Ikatan
Saat ini kita menyadari betapa banyak dosa yang telah kita lakukan. Namun ketika kita memutuskan untuk menerima Dia, kita akan merasakan sebagai ciptaan yang baru, hidup yang diubahkan. Kebebasan yang sesungguhnya hanya ada di dalam Yesus, sehingga Tuhan dari sorga berseru” Engkaulah AnakKu yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”! Selamat bertobat dan berbuah dalam kasihNya. Amin
Menurut Charles H.Spurgeon mengatakan:”Apabila rumah tangga dikendalikan menurut Firman Tuhan, maka malaikat-malaikat dapat diundang untuk tinggal bersama dengan kita, dan mereka pasti akan merasa betah dan senang”. Namun kenyataan bahwa banyak rumah tangga Kristen tidak dikendalikan oleh firman Tuhan. Bicara soal keluarga erat hubungannya soal lembaga pernikahan. Pernikahan ada di dunia ini bukan karena kebetulan atau karena kemauan manusia. Jadi, pernikahan adalah rencana Allah yang indah untuk kebahagian manusia (Kej 1.26-28; 2.18-25).
Mengapa Tuhan marah kepada bangsa Israel bahkan tidak lagi mendengarkan suara doa dan tangisnya?(Maleaki 2.13-16). Mereka tidak setia kepada pasangan hidupnya, terjadi kawin campur sehingga iman mereka tidak kudus dihadapan Tuhan, jatuh pada dosa. Dengan itu maka iman mereka tidak lagi hanya kepada Allah namun sudah ikut menyembah dewa. Menajiskan perjanjian Allah (ay 10) penghianatan terhadap iman dan menajiskan tempat kudus (ay 11), dan juga ketidaksetiaan (ay 14) maka mereka tidak dapat membedakan mana yang benar dan yang salah (bng Yes 61.10; Efs 4.22-24; Kol 3.9-10). Mereka kembali kepada sikap dan tindakan yang lama dasar hidup yang rapuh (lih Mal 3.7). Kemarahan Tuhan terjawab ketika bangsa ini kembali kepada Tuhan atas tagisan dan doa pertobatannya(Mal 3.10) ketika firman menjadi dasar hidup maka berkat-berkat Tuhan akan dirasakan/nikmati. Ketika mereka hidup dalam iman yang setia maka jawaban Tuhan terbukti dengan tindakan atas janji kesetiaanNya dikatakan; ”Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia” (Mal 3.17).
Surat Paulus kepada jemaat di Efesus juga menasehati istri dan suami agar tunduk dan setia dengan pasanganya sama seperti kepada Tuhan (efs 5.22; Kej 3.16; Kol 3.18). Dengan tujuan agar dasar keluarga yang diikat oleh kesetiaan, saling menghargai. Dasarnya ialah; 1).ikatan cinta kasih (Kol 3.18-19). 2).Hidup dalam pengudusan (1 Tes 4.4-5), 3). jauh dari penghianatan(Amsal 12.4). Ketika hubungan ini setia dan didasari kasih sayang maka berkat Tuhan akan berlimpah ruah. Keluarga Kristen merupakan gambaran ketaatan dan kesetiaanNya dalam tugasNya memberikan keselamatan. Paulus mengatakan ”Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil 2.8).
Banyak keluarga diambang kehancuran karena berbagai alasan; tidak cocok lagi, selingkuh, hempitan ekonomi dan juga karna tidak adanya keturunan. Mengapa ini bisa terjadi? Sebab mereka tidak didasari Tuhan Yesus, tidak diikat cinta kasih, pernikahan tidak kudus dan tindakan penghianatan pada ”Janji Suci” yang dinyatakan ketika menerima pemberkatan nikah dihadapan Tuhan. Siapapun orangnya tidak mau dikhiati! (Mal 2.16). Ada juga rumah tangga berjalan tanpa ada nakhodanya, suami cari makan dan istri sibuk dengan urusan diri sendiri, anak beranntakan sehingga hubungan harmonis hilang ditelan sifat egois, cuek dengan dirinya sendiri sehingga tidak ada kedamaian, tidak ada lagi kesetiaan. Kita harus mempunyai sikap yang berbeda dengan dunia yang tidak mengenal Tuhan, kita harus hidup tunduk, taat bersikap setia dengan kata lain kita harus tetap setia. Allah merencanakan kebahagian yang diikat oleh kasih Allah. Kebahagian dimiliki oleh tiap pasangan yang didasari oleh sikap taat, setia, rasa hormat dan menjadi satu daging. Jangan biarkan kebahagian rumah tangga dihancurkan oleh iblis, datanglah dan kembali kepada ajaran Kristus Yesus. Kristus yang menjadi dasarnya, kasih yang mengikatnya, cinta yang menyiraminya setiap saat, hidupmu akan bahagia. Amin
ADVEN berasal dari bahasa Latin: adventus. Arti hurufiahnya: kedatangan. Gereja mengartikannya sebagai persiapan atau penantian kedatangan Yesus Kristus, Putra Allah. Menurut kalender ibadah atau Tahun Gerejawi yang dianut juga oleh HKBP maka sebelum Hari Raya Natal atau perayaan kedatangan Yesus melalui kelahiranNya di Betlehem, maka ada 4(empat) minggu Adven. Saban minggu Adven itu ditandai dengan penyalaan lilin: satu lilin di minggu adven pertama, dua lilin di minggu adven kedua, dan seterusnya. Menurut tradisi gereja tiga lilin adven itu berwarna ungu atau violet, menyimbolkan pertobatan, pengharapan dan penantian. Namun lilin adven ketiga justru berwarna merah muda, hendak menyimbolkan sukacita pengharapan yang tidak tertahankan lagi karena kelahiran Tuhan sudah sangat dekat. Tradisi gereja juga mengenal lingkaran Adven, yaitu dedaunan segar (bukan plastik imitasi) dan buah berry merah yang dipasang di bawah lilin atau di dinding, melambangkan kehidupan yang segar abadi (evergreen). Namun sangat disesalkan kita hampir tidak dapat lagi menghayati suasana Adven itu di gereja-gereja kita kalangan protestan, sebab jika kita jujur, kalender ibadah gereja kita khususnya di sekitar Desember telah kacau. Makna Adven hilang karena perayaan-perayaan natal justru telah berlangsung saat gereja seharusnya masih menanti-nanti atau mempersiapkan hati menyambut kelahiran Juruslamatnya.
Apakah sebenarnya makna Adven bagi kita?
Pertama: panggilan pertobatan
Pertobatan adalah sikap yang paling pas untuk menyambut kedatangan Tuhan, baik di kedatanganNya yang mulia di hari agung nanti maupun dalam keseharian hidup ini. Pertobatan juga merupakan sikap yang paling sesuai untuk merayakan Hari Natal. Dahulu kedatangan Yesus Sang Mesias juga didahului oleh kedatangan sang perintis Yohanes Pembaptis yang membawa undangan pertobatan: tanah yang berbukit-bukit harus diratakan dan jalan yang berlekuk-lekuk harus diluruskan! Sebab itu baiklah kita sadar bahwa lilin yang kita nyalakan pada minggu Adven bukan hanya lilin penantian, tetapi juga lilin pertobatan. Bukan pertobatan artifisial dan seremonial namun pertobatan hati yang sungguh-sungguh menerima dan menyambut Dia sebagai Raja, Penguasa dalam hati dan jiwa kita.
Pertobatan bukanlah sekadar penyesalan dengan kata-kata, tetapi suatu tekad untuk memberikan diri diubah dan dibaharui Roh Kudus. Pertobatan bagi kita adalah kerelaan untuk terus-menerus menjadi manusia baru yang kehadiran dan karyanya bermakna, memberi jalan keluar, dan mendorong sukacita dunia ini. Sebab itu masa Adven juga merupakan kesempatan emas bagi kita merenungkan kemanusiaan kita yang sesungguhnya. Sebagaimana Yesus datang untuk melayani dan mengasihi, demikian jugalah kita dipanggil untuk datang melayani dan mengasihi sesama kita. Sebagaimana Kristus sepanjang hidupNya menyerahkan diri bagi keselamatan dunia ini, demikian jugalah kita diajak untuk tidak pernah lelah dan jemu mengabdi untuk membuat dunia ini menjadi lebih sejahtera, adil dan baik.
Inilah dasarnya mengapa gereja melarang pesta natal saat minggu-minggu Adven atau sebelum 25 Desember, yaitu agar kita lebih dulu melakukan permenungan yang dalam dan tulus lantas bertobat. Namun banyak orang sekarang tidak mau lagi bermenung (dan karena itu harusnya disangsikan pertobatannya!) dan hanya suka berpesta natal saja semeriah-meriahnya dan sehebat-hebatnya. Kepada orang-orang ini mau dikatakan: natal tanpa pertobatan adalah kosong.
Kedua: peneguhan pengharapan.
Minggu Adven adalah minggu pengharapan. Gereja, sama seperti umat Israel, hidup dari pengharapannya. Walaupun kenyataan hidup sulit atau penuh dengan penderitaan, gereja tetap berharap kepada Allah. Tak ada satu kondisi pun di dunia ini atau dalam diri kita yang boleh membuat kita putus asa dan mati rasa (apatis). Tuhan Allah hidup dan setia. Dia berjanji akan datang membebaskan kita umatNya dan memulihkan keadaan. Dialah sumber pengharapan kita.
Dengan merayakan minggu Adven gereja mau meneguhkan kembali pengharapannya dan imannya kepada Allah. Lilin Adven yang kita nyalakan itu adalah simbol pengharapan kita yang tidak pernah padam.
Ketiga: Sukacita pengharapan
Pertobatan kita bukanlah pertobatan yang dipaksa, namun pertobatan yang ikhlas. Pertobatan kita juga bukanlah syarat yang diwajibkan Tuhan untuk menerima berkatNya, tetapi jawaban tulus kita kepada Dia yang menerima dan memberkati kita justru tanpa syarat apapun. Sebab itulah pertobatan kita melahirkan sukacita yang sangat dalam.
Namun bukan hanya itu. Minggu Adven mengajak kita membaharui kembali pengharapan kita. Yaitu pengharapan kepada Tuhan yang akan datang segera menolong dan membebaskan kita. Pengharapan itu melahirkan sukacita sebab kita tahu Tuhan yang menjadi gantungan harapan itu setia. (Roma 12:12). Pengharapan itulah yang meneguhkan hati kita di tengah-tengah realitas kehidupan yang penuh kekerasan, persaingan mematikan, ambisi tidak terkendali, manipulasi dan egoisme. Pada akhirnya pengharapan itu juga yang memberi kita kekuatan dan kegembiraan untuk tetap hidup sebagai manusia, yang taat kepada Allah dan mengasihi sesama.
Pada minggu Adven ketiga ini sukacita kita meluap dan tidak tertahankan lagi sebab natal sudah semakin dekat. Persis seperti sukacita seorang ibu yang sebentar lagi akan melahirkan anaknya. Atau sukacita seorang petani menjelang panen tiba. Atau sukacita seorang anak yang esok hari akan ulang tahun. Dalam tradisi gereja lilin minggu Adven ketiga itu berwarna merah jambu melambangkan sukacita yang besar itu.
Keempat: penantian yang panjang.
Alkitab menyaksikan kelahiran Yesus adalah peristiwa besar yang telah dijanjikan Allah jauh sebelumnya melalui para nabiNya. Dengan merayakan Adven (sampai empat minggu berturut-turut) gereja bukan hanya mengenang tetapi menyatukan dirinya dengan para nabi serta umat Allah di Perjanjian Lama yang menanti-nantikan kedatangan Mesias atau Sang Penebus. Masa Adven itu mengingatkan kita kepada penantian dan persiapan para nabi akan kedatangan Juruslamat yang dijanjikan Allah. Sebab itu dengan setia kepada minggu-minggu Adven itulah kita dapat menemukan makna Hari Raya Natal yang sesungguhnya. Yaitu hari kelahiran Tuhan yang dijanjikan Allah dan kita nantikan itu.
Gereja percaya bahwa Yesus yang lahir di Betlehem dahulu kata, mati dan bangkit sekarang duduk di sebelah kanan Allah memerintah. Namun Dia berjanji akan datang kembali. KedatanganNya kembali ke dunia inilah yang sekarang sedang dinanti-nantikan oleh gereja. Sebab itu minggu Adven bagi kita bukan sekadar kenangan ke masa silam atau tepatnya kenangan akan penantian para nabi dan umat Allah di masa Perjanjian Lama, tetapi juga harapan ke masa depan, yaitu penantian gereja kepada Kristus yang akan datang kembali. Kapan? Tidak seorang pun mengetahuinya. Masih lama atau sudah dekat? Yang jelas semakin hari semakin dekat, namun tetap tidak bisa dipastikan saatnya. Alkitab mengatakan kedatangan Kristus Sang Kudus itu di saat tidak terduga, persis kedatangan “seorang pencuri”. Yang penting: nantikanlah terus kedatanganNya. Dan sambil menanti: tetaplah bekerja dan tunaikan semua tugas dan tanggungjawab. Persis seperti kata bapa gereja Martin Luther: seandainya Kristus datang besok hari, maka aku akan tetap menanam pohon apel hari ini.
Kita beriman sebelum hari kedatanganNya yang agung itu, Tuhan datang dan selalu hadir dalam kehidupan kita. Itulah juga yang hendak kita renungkan dan hayati melalui minggu Adven. Kita juga sedang menanti-nantikan Dia datang dalam keseharian kita, menolong dan membebaskan kita dari berbagai hal dan untuk bermacam hal di realitas ini.
Melalui minggu-minggu Adven ini jugalah kita diingatkan akan penantian-penantian kita dalam kehidupan ini. Ada banyak sekali yang mungkin kita nantikan di kenyataan hidup ini: kehamilan, kelahiran anak, panen, hasil usaha, pengabulan doa, kesembuhan, pertemuan dengan kekasih, dan berbagai penantian panjang lain yang memerlukan ketekunan doa dan tak jarang mendorong air mata. Melalui minggu Adven kita hendak berdoa agar Allah memberkati dan meneguhkan hati kita menyambut semua penantian kita dan saudara-saudara itu. Sebab itu minggu Adven juga merupakan saat-saat untuk berdoa dan berpuasa. Belum untuk berpesta!
Siapa menghilangkan Adven akan kehilangan Natal
Dengan pemahaman di atas sadarlah kita betapa berharganya masa-masa Adven bagi kita. Tanpa melalui peringatan akan Adven sebagai minggu-minggu permenungan dan saat-saat bertobat, berharap, bersukacita dan menanti kita tidak akan mampu menangkap sukacita Natal yang sesungguhnya. Ingat: Natal hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang mau menyatukan diri dalam penantian umat yang begitu panjang akan kedatangan Juruslamatnya. (Umat purba menanti Mesias ratusan tahun, namun banyak umat kristen moderen menunggu satu bulan saja pun tak mau). Tanpa Adven, Natal hanya jatuh ke dalam hiruk-pikuk dan seremoni kosong.
Apa yang dijanjikan oleh Yesus ketika mereka mengikut Dia? Ketika Simon Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes meninggalkan pekerjaan mereka ( Penjala ikan ) sebagai sumber kehidupankekayaan, apakah dengan mengikut Yesus mereka mendapatkan pekerjaan / kekayaan yang lebih baik ? Ternyata tidak. Apabila pemuda kaya di dalam Matius 19 : 21 menjual kekayaannya semua(Seperti yang diperintahkan Yesus ), dan dia mengikut Yesus apakah dia akan mendapatkan kekayaan yang lebih lagi dari kekayaannya yang lama ? Ketika ada panggilan "Ikutlah Aku" kepada anda, apakah yang anda harapakan ? Semasa hidupnya di dunia, Yesus adalah orang miskin. Bahkan Dia tidak pernah membawa uang sepeserpun dalam pelayanan-Nya. Mengikut Yesus sama sekali bukanlah ikut melangkahkan kaki secara lahiriah. Ketika Yesus mengingatkan Petrus untuk mengikutiNya menjelang kepergianNya ke Surga, itu bukan dimaksudkan agar Petrus mengikuti Dia sekalian ke Surga. Orang-orang yang dipanggil untuk ikut Yesus dimaksudkan agar menyerahkan hidupnya bagi DIRI YESUS yang merupakan pusat keselamatan yang sejati, yaitu'Akulah jalan dan kebenaran dan hidup' (Yohanes 14:6). Keselamatan dan berkat-berkat Abraham adalah tertanam dalam diriNya, bukan dalam filosofi tentang diriNya. Karena itu ada perbedaan besar antara "Ikutlah Aku" (baca: Ikutlah Yesus, disingkat IA) dan "ikutlah agamaku" (baca: ikut sebuah agama, disingkat IAK).
Di dunia ini kita berhadapan dengan 2 mazhab pengikut seperti itu, satu dan lainnya mencari keselamatan dengan cara yang sangat berbeda secara mendasar. Beberapa kesenjangan yang pokok kita ringkaskan disini : 1.Kesenjangan kedekatan dengan sumber Firman Konsep (IA) memfokuskan Yesus sebagai Pribadi Firman ("Pemilik-firman") yang berfirman dan berelasi langsung dengan pengikut firmanNya, yang sekaligus menjadi saksi mata atas firmanNya.2.Kesenjangan akan jaminankeselamatan Konsep "Ikutlah Aku" mengakui Yesus Kristus sebagai pemilik dari pengikutNya. Mereka adalah doma-domba milikNya dan Dia adalah Gembala yang baik, Penyelamat (penebus) dan yang empunya Surga :Keselamatan adalah anugerah langsung dan pasti dari Sang Gembala kepada domba-domba yang berelasi dengan diriNya. Maka keselamatan-kekal bukanlah hasil-usaha manusia, karena manusia yang tidak kekal (yaitu domba yang lemah, rapuh dan rawan, yang amat tak berdaya dihadapan Tuhan) sungguh tak mampu mengusahakan sebuah keselamatan kekal bagi dirinya. Menyelamatkan diri kita sendiri saja kita tidak sanggup; maka bagaimana dapat kita menyelamatkan diri kita dari neraka, suatu kematian kekal akibat dosa-dosa kita? 3.Kesenjangan peluang keselamatan karena beda ilmu agamanya Konsep (IAK) mutlak menuntut pemahaman ilmu agama bagi setiap pengikut yang benar, yaitu penguasaan pasal-pasal hukum, akidah, ritual ibadah, aturan-aturan upacarawi keagamaan, jenis pahala dan bobotnya dll. agar dapat mengoperasikannya secara benar dan maksimal apa-apa yang diharuskan dan yang seyogyanya dalam aturan agamanya. Juga apa-apa yang harus diharamkan, dan apa yang masih boleh ditoleransikan. Dengan demikian, tentu banyak aturan-aturan yang masih "tersembunyi" bagi para pengikutnya, baik yang tersurat, yang tersirat, perbedaan tafsir dan mazhab, dan bagaimanapun memang ada saja yang tidak mampu tahu semuanya!
Mengikut Yesus adalah merupakan suatu keputusan yang tepat agar kita melihat kemuliaan Tuhan dalam setiap unsur kehidupan kita. Ketika Mengikut Dia disinilah hilangnya kesenjangan kedekatan, jamiman dan peluang akan kita dapatkan bersama Yesus. Dialah Allah yang setiap dan Bapa yang memikirkan apa yang terbaik dalam seluruh kehidupan kita semua umatNya. Kita akan kaya dalam kasih, sukacita, kemuliaan dan kebahagian bersama denganNya. Ikulah Dia jangan tundah hari-harimu bersama dengan berkat-berkatNya, belajar menaati firmanNya sama dengan mengiku Dia. Amin