Selasa, 27 Desember 2011

”Kristus Dasar Hidup Rumah Tangga Kristen”

Menurut Charles H.Spurgeon mengatakan:”Apabila rumah tangga dikendalikan menurut Firman Tuhan, maka malaikat-malaikat dapat diundang untuk tinggal bersama dengan kita, dan mereka pasti akan merasa betah dan senang”. Namun kenyataan bahwa banyak rumah tangga Kristen tidak dikendalikan oleh firman Tuhan. Bicara soal keluarga erat hubungannya soal lembaga pernikahan. Pernikahan ada di dunia ini bukan karena kebetulan atau karena kemauan manusia. Jadi, pernikahan adalah rencana Allah yang indah untuk kebahagian manusia (Kej 1.26-28; 2.18-25).
Mengapa Tuhan marah kepada bangsa Israel bahkan tidak lagi mendengarkan suara doa dan tangisnya?(Maleaki 2.13-16). Mereka tidak setia kepada pasangan hidupnya, terjadi kawin campur sehingga iman mereka tidak kudus dihadapan Tuhan, jatuh pada dosa. Dengan itu maka iman mereka tidak lagi hanya kepada Allah namun sudah ikut menyembah dewa. Menajiskan perjanjian Allah (ay 10) penghianatan terhadap iman dan menajiskan tempat kudus (ay 11), dan juga ketidaksetiaan (ay 14) maka mereka tidak dapat membedakan mana yang benar dan yang salah (bng Yes 61.10; Efs 4.22-24; Kol 3.9-10). Mereka kembali kepada sikap dan tindakan yang lama dasar hidup yang rapuh (lih Mal 3.7). Kemarahan Tuhan terjawab ketika bangsa ini kembali kepada Tuhan atas tagisan dan doa pertobatannya(Mal 3.10) ketika firman menjadi dasar hidup maka berkat-berkat Tuhan akan dirasakan/nikmati. Ketika mereka hidup dalam iman yang setia maka jawaban Tuhan terbukti dengan tindakan atas janji kesetiaanNya dikatakan; ”Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia” (Mal 3.17). 
Surat Paulus kepada jemaat di Efesus juga menasehati istri dan suami agar tunduk dan setia dengan pasanganya sama seperti kepada Tuhan (efs 5.22; Kej 3.16; Kol 3.18). Dengan tujuan agar dasar keluarga yang diikat oleh kesetiaan, saling menghargai. Dasarnya ialah; 1).ikatan cinta kasih (Kol 3.18-19). 2).Hidup dalam pengudusan (1 Tes 4.4-5), 3). jauh dari penghianatan(Amsal 12.4). Ketika hubungan ini setia dan didasari kasih sayang maka berkat Tuhan akan berlimpah ruah. Keluarga Kristen merupakan gambaran ketaatan dan kesetiaanNya dalam tugasNya memberikan keselamatan. Paulus mengatakan Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil 2.8).
Banyak keluarga diambang kehancuran karena berbagai alasan; tidak cocok lagi, selingkuh, hempitan ekonomi dan juga karna tidak adanya keturunan. Mengapa ini bisa terjadi? Sebab mereka tidak didasari Tuhan Yesus, tidak diikat cinta kasih, pernikahan tidak kudus dan tindakan penghianatan  pada ”Janji Suci” yang dinyatakan ketika menerima pemberkatan nikah dihadapan Tuhan. Siapapun orangnya tidak mau dikhiati! (Mal 2.16). Ada juga rumah tangga berjalan tanpa ada nakhodanya, suami cari makan dan istri sibuk dengan urusan diri sendiri, anak beranntakan sehingga hubungan harmonis hilang ditelan sifat egois, cuek dengan dirinya sendiri sehingga tidak ada kedamaian, tidak ada lagi kesetiaan. Kita harus mempunyai sikap yang berbeda dengan dunia yang tidak mengenal Tuhan, kita harus hidup tunduk, taat bersikap setia dengan kata lain kita harus tetap setia. Allah merencanakan kebahagian yang diikat oleh kasih Allah. Kebahagian dimiliki oleh tiap pasangan yang didasari oleh sikap taat, setia, rasa hormat dan menjadi satu daging. Jangan biarkan kebahagian rumah tangga dihancurkan oleh iblis, datanglah dan kembali kepada ajaran Kristus Yesus. Kristus yang menjadi dasarnya, kasih yang mengikatnya, cinta yang menyiraminya setiap saat, hidupmu akan bahagia. Amin

Sabtu, 24 Desember 2011

Makna Minggu Adven

ADVEN berasal dari bahasa Latin: adventus. Arti hurufiahnya: kedatangan. Gereja mengartikannya sebagai persiapan atau penantian kedatangan Yesus Kristus, Putra Allah. Menurut kalender ibadah atau Tahun Gerejawi yang dianut juga oleh HKBP maka sebelum Hari Raya Natal atau perayaan kedatangan Yesus melalui kelahiranNya di Betlehem, maka ada 4(empat) minggu Adven. Saban minggu Adven itu ditandai dengan penyalaan lilin: satu lilin di minggu adven pertama, dua lilin di minggu adven kedua, dan seterusnya. Menurut tradisi gereja tiga lilin adven itu berwarna ungu atau violet, menyimbolkan pertobatan, pengharapan dan penantian. Namun lilin adven ketiga justru berwarna merah muda, hendak menyimbolkan sukacita pengharapan yang tidak tertahankan lagi karena kelahiran Tuhan sudah sangat dekat. Tradisi gereja juga mengenal lingkaran Adven, yaitu dedaunan segar (bukan plastik imitasi) dan buah berry merah yang dipasang di bawah lilin atau di dinding, melambangkan kehidupan yang segar abadi (evergreen). Namun sangat disesalkan kita hampir tidak dapat lagi menghayati suasana Adven itu di gereja-gereja kita kalangan protestan, sebab jika kita jujur, kalender ibadah gereja kita khususnya di sekitar Desember telah kacau. Makna Adven hilang karena perayaan-perayaan natal justru telah berlangsung saat gereja seharusnya masih menanti-nanti atau mempersiapkan hati menyambut kelahiran Juruslamatnya.
Apakah sebenarnya makna Adven bagi kita?
Pertama: panggilan pertobatan
Pertobatan adalah sikap yang paling pas untuk menyambut kedatangan Tuhan, baik di kedatanganNya yang mulia di hari agung nanti maupun dalam keseharian hidup ini. Pertobatan juga merupakan sikap yang paling sesuai untuk merayakan Hari Natal. Dahulu kedatangan Yesus Sang Mesias juga didahului oleh kedatangan sang perintis Yohanes Pembaptis yang membawa undangan pertobatan: tanah yang berbukit-bukit harus diratakan dan jalan yang berlekuk-lekuk harus diluruskan! Sebab itu baiklah kita sadar bahwa lilin yang kita nyalakan pada minggu Adven bukan hanya lilin penantian, tetapi juga lilin pertobatan. Bukan pertobatan artifisial dan seremonial namun pertobatan hati yang sungguh-sungguh menerima dan menyambut Dia sebagai Raja, Penguasa dalam hati dan jiwa kita.
Pertobatan bukanlah sekadar penyesalan dengan kata-kata, tetapi suatu tekad untuk memberikan diri diubah dan dibaharui Roh Kudus. Pertobatan bagi kita adalah kerelaan untuk terus-menerus menjadi manusia baru yang kehadiran dan karyanya bermakna, memberi jalan keluar, dan mendorong sukacita dunia ini. Sebab itu masa Adven juga merupakan kesempatan emas bagi kita merenungkan kemanusiaan kita yang sesungguhnya. Sebagaimana Yesus datang untuk melayani dan mengasihi, demikian jugalah kita dipanggil untuk datang melayani dan mengasihi sesama kita. Sebagaimana Kristus sepanjang hidupNya menyerahkan diri bagi keselamatan dunia ini, demikian jugalah kita diajak untuk tidak pernah lelah dan jemu mengabdi untuk membuat dunia ini menjadi lebih sejahtera, adil dan baik.
Inilah dasarnya mengapa gereja melarang pesta natal saat minggu-minggu Adven atau sebelum 25 Desember, yaitu agar kita lebih dulu melakukan permenungan yang dalam dan tulus lantas bertobat. Namun banyak orang sekarang tidak mau lagi bermenung (dan karena itu harusnya disangsikan pertobatannya!) dan hanya suka berpesta natal saja semeriah-meriahnya dan sehebat-hebatnya. Kepada orang-orang ini mau dikatakan: natal tanpa pertobatan adalah kosong.
Kedua: peneguhan pengharapan.
Minggu Adven adalah minggu pengharapan. Gereja, sama seperti umat Israel, hidup dari pengharapannya. Walaupun kenyataan hidup sulit atau penuh dengan penderitaan, gereja tetap berharap kepada Allah. Tak ada satu kondisi pun di dunia ini atau dalam diri kita yang boleh membuat kita putus asa dan mati rasa (apatis). Tuhan Allah hidup dan setia. Dia berjanji akan datang membebaskan kita umatNya dan memulihkan keadaan. Dialah sumber pengharapan kita.
Dengan merayakan minggu Adven gereja mau meneguhkan kembali pengharapannya dan imannya kepada Allah. Lilin Adven yang kita nyalakan itu adalah simbol pengharapan kita yang tidak pernah padam.
Ketiga: Sukacita pengharapan
Pertobatan kita bukanlah pertobatan yang dipaksa, namun pertobatan yang ikhlas. Pertobatan kita juga bukanlah syarat yang diwajibkan Tuhan untuk menerima berkatNya, tetapi jawaban tulus kita kepada Dia yang menerima dan memberkati kita justru tanpa syarat apapun. Sebab itulah pertobatan kita melahirkan sukacita yang sangat dalam.
Namun bukan hanya itu. Minggu Adven mengajak kita membaharui kembali pengharapan kita. Yaitu pengharapan kepada Tuhan yang akan datang segera menolong dan membebaskan kita. Pengharapan itu melahirkan sukacita sebab kita tahu Tuhan yang menjadi gantungan harapan itu setia. (Roma 12:12). Pengharapan itulah yang meneguhkan hati kita di tengah-tengah realitas kehidupan yang penuh kekerasan, persaingan mematikan, ambisi tidak terkendali, manipulasi dan egoisme. Pada akhirnya pengharapan itu juga yang memberi kita kekuatan dan kegembiraan untuk tetap hidup sebagai manusia, yang taat kepada Allah dan mengasihi sesama.
Pada minggu Adven ketiga ini sukacita kita meluap dan tidak tertahankan lagi sebab natal sudah semakin dekat. Persis seperti sukacita seorang ibu yang sebentar lagi akan melahirkan anaknya. Atau sukacita seorang petani menjelang panen tiba. Atau sukacita seorang anak yang esok hari akan ulang tahun. Dalam tradisi gereja lilin minggu Adven ketiga itu berwarna merah jambu melambangkan sukacita yang besar itu.
Keempat: penantian yang panjang.
Alkitab menyaksikan kelahiran Yesus adalah peristiwa besar yang telah dijanjikan Allah jauh sebelumnya melalui para nabiNya. Dengan merayakan Adven (sampai empat minggu berturut-turut) gereja bukan hanya mengenang tetapi menyatukan dirinya dengan para nabi serta umat Allah di Perjanjian Lama yang menanti-nantikan kedatangan Mesias atau Sang Penebus. Masa Adven itu mengingatkan kita kepada penantian dan persiapan para nabi akan kedatangan Juruslamat yang dijanjikan Allah. Sebab itu dengan setia kepada minggu-minggu Adven itulah kita dapat menemukan makna Hari Raya Natal yang sesungguhnya. Yaitu hari kelahiran Tuhan yang dijanjikan Allah dan kita nantikan itu.
Gereja percaya bahwa Yesus yang lahir di Betlehem dahulu kata, mati dan bangkit sekarang duduk di sebelah kanan Allah memerintah. Namun Dia berjanji akan datang kembali. KedatanganNya kembali ke dunia inilah yang sekarang sedang dinanti-nantikan oleh gereja. Sebab itu minggu Adven bagi kita bukan sekadar kenangan ke masa silam atau tepatnya kenangan akan penantian para nabi dan umat Allah di masa Perjanjian Lama, tetapi juga harapan ke masa depan, yaitu penantian gereja kepada Kristus yang akan datang kembali. Kapan? Tidak seorang pun mengetahuinya. Masih lama atau sudah dekat? Yang jelas semakin hari semakin dekat, namun tetap tidak bisa dipastikan saatnya. Alkitab mengatakan kedatangan Kristus Sang Kudus itu di saat tidak terduga, persis kedatangan “seorang pencuri”. Yang penting: nantikanlah terus kedatanganNya. Dan sambil menanti: tetaplah bekerja dan tunaikan semua tugas dan tanggungjawab. Persis seperti kata bapa gereja Martin Luther: seandainya Kristus datang besok hari, maka aku akan tetap menanam pohon apel hari ini.
Kita beriman sebelum hari kedatanganNya yang agung itu, Tuhan datang dan selalu hadir dalam kehidupan kita. Itulah juga yang hendak kita renungkan dan hayati melalui minggu Adven. Kita juga sedang menanti-nantikan Dia datang dalam keseharian kita, menolong dan membebaskan kita dari berbagai hal dan untuk bermacam hal di realitas ini.
Melalui minggu-minggu Adven ini jugalah kita diingatkan akan penantian-penantian kita dalam kehidupan ini. Ada banyak sekali yang mungkin kita nantikan di kenyataan hidup ini: kehamilan, kelahiran anak, panen, hasil usaha, pengabulan doa, kesembuhan, pertemuan dengan kekasih, dan berbagai penantian panjang lain yang memerlukan ketekunan doa dan tak jarang mendorong air mata. Melalui minggu Adven kita hendak berdoa agar Allah memberkati dan meneguhkan hati kita menyambut semua penantian kita dan saudara-saudara itu. Sebab itu minggu Adven juga merupakan saat-saat untuk berdoa dan berpuasa. Belum untuk berpesta!
Siapa menghilangkan Adven akan kehilangan Natal
Dengan pemahaman di atas sadarlah kita betapa berharganya masa-masa Adven bagi kita. Tanpa melalui peringatan akan Adven sebagai minggu-minggu permenungan dan saat-saat bertobat, berharap, bersukacita dan menanti kita tidak akan mampu menangkap sukacita Natal yang sesungguhnya. Ingat: Natal hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang mau menyatukan diri dalam penantian umat yang begitu panjang akan kedatangan Juruslamatnya. (Umat purba menanti Mesias ratusan tahun, namun banyak umat kristen moderen menunggu satu bulan saja pun tak mau). Tanpa Adven, Natal hanya jatuh ke dalam hiruk-pikuk dan seremoni kosong.



Minggu, 11 Desember 2011

”Ikutlah Aku”

Apa yang dijanjikan oleh Yesus ketika mereka mengikut Dia? Ketika Simon Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes meninggalkan pekerjaan mereka ( Penjala ikan ) sebagai sumber kehidupan  kekayaan, apakah dengan mengikut Yesus mereka mendapatkan pekerjaan / kekayaan yang lebih baik ? Ternyata tidak. Apabila pemuda kaya di dalam Matius 19 : 21 menjual kekayaannya semua  (Seperti yang diperintahkan Yesus ), dan dia mengikut Yesus apakah dia akan mendapatkan kekayaan yang lebih lagi dari kekayaannya yang lama ? Ketika ada panggilan "Ikutlah Aku" kepada anda, apakah yang anda harapakan ? Semasa hidupnya di dunia, Yesus adalah orang miskin. Bahkan Dia tidak pernah membawa uang sepeserpun dalam pelayanan-Nya. Mengikut Yesus sama sekali bukanlah ikut melangkahkan kaki secara lahiriah. Ketika Yesus mengingatkan Petrus untuk mengikutiNya menjelang kepergianNya ke Surga, itu bukan dimaksudkan agar Petrus mengikuti Dia sekalian ke Surga. Orang-orang yang dipanggil untuk ikut Yesus dimaksudkan agar menyerahkan hidupnya bagi DIRI YESUS yang merupakan pusat keselamatan yang sejati, yaitu 'Akulah jalan dan kebenaran dan hidup' (Yohanes 14:6). Keselamatan dan berkat-berkat Abraham adalah tertanam dalam diriNya, bukan dalam filosofi tentang diriNya. Karena itu ada perbedaan besar antara "Ikutlah Aku" (baca: Ikutlah Yesus, disingkat IA) dan "ikutlah agamaku" (baca: ikut sebuah agama, disingkat IAK).
Di dunia ini kita berhadapan dengan 2 mazhab pengikut seperti itu, satu dan lainnya mencari keselamatan dengan cara yang sangat berbeda secara mendasar. Beberapa kesenjangan yang pokok kita ringkaskan disini : 1.Kesenjangan kedekatan dengan sumber Firman Konsep (IA) memfokuskan Yesus sebagai Pribadi Firman ("Pemilik-firman") yang berfirman dan berelasi langsung dengan pengikut firmanNya, yang sekaligus menjadi saksi mata atas firmanNya. 2.Kesenjangan akan jaminan keselamatan Konsep "Ikutlah Aku" mengakui Yesus Kristus sebagai pemilik dari pengikutNya. Mereka adalah doma-domba milikNya dan Dia adalah Gembala yang baik, Penyelamat (penebus) dan yang empunya Surga : Keselamatan adalah anugerah langsung dan pasti dari Sang Gembala kepada domba-domba yang berelasi dengan diriNya. Maka keselamatan-kekal bukanlah hasil-usaha manusia, karena manusia yang tidak kekal (yaitu domba yang lemah, rapuh dan rawan, yang amat tak berdaya dihadapan Tuhan) sungguh tak mampu mengusahakan sebuah keselamatan kekal bagi dirinya. Menyelamatkan diri kita sendiri saja kita tidak sanggup; maka bagaimana dapat kita menyelamatkan diri kita dari neraka, suatu kematian kekal akibat dosa-dosa kita? 3.Kesenjangan peluang keselamatan karena beda ilmu agamanya Konsep (IAK) mutlak menuntut pemahaman ilmu agama bagi setiap pengikut yang benar, yaitu penguasaan pasal-pasal hukum, akidah, ritual ibadah, aturan-aturan upacarawi keagamaan, jenis pahala dan bobotnya dll. agar dapat mengoperasikannya secara benar dan maksimal apa-apa yang diharuskan dan yang seyogyanya dalam aturan agamanya. Juga apa-apa yang harus diharamkan, dan apa yang masih boleh ditoleransikan. Dengan demikian, tentu banyak aturan-aturan yang masih "tersembunyi" bagi para pengikutnya, baik yang tersurat, yang tersirat, perbedaan tafsir dan mazhab, dan bagaimanapun memang ada saja yang tidak mampu tahu semuanya!
Mengikut Yesus adalah merupakan suatu keputusan yang tepat agar kita melihat kemuliaan Tuhan dalam setiap unsur kehidupan kita. Ketika Mengikut Dia disinilah hilangnya kesenjangan kedekatan, jamiman dan peluang akan kita dapatkan bersama Yesus. Dialah Allah yang setiap dan Bapa yang memikirkan apa yang terbaik dalam seluruh kehidupan kita semua umatNya. Kita akan kaya dalam kasih, sukacita, kemuliaan dan kebahagian bersama denganNya. Ikulah Dia jangan tundah hari-harimu bersama dengan berkat-berkatNya, belajar menaati firmanNya sama dengan mengiku Dia. Amin

Jumat, 09 Desember 2011

Umat Pilihan Tuhan


Tuhan menempatkan bangsa Israel menjadi bangsa yang terpilih bukan karna jumlahnya ( Ulangan 7. 7) akan tetapi karna pemilihan ini merupakan rencana Allah yang sudah jelas-jelas dikatakanNya kepada Abraham ”Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal,..."(Kej 17.7-8). Bangsa yang akan dibentuk Tuhan menjadi bangsa pilihan dan akan mendiami tempat yang telah ditentukan oleh Allah sendiri (lih Kej 37.9-11). Dari rancangan Allah ini bangsa/orang yang dipilihnya akan menjadikan Dia sebagai Allah yang benar-benar Tuhannya, dimana kehidupan umat pilihan Tuhan akan menunjukkan cara hidup dengan:

1.   Setia dalam iman
Begitu banyak orang Kristen yang kalah dalam mempertahankan imannya, ada yang menjual imannya karena harta, pasangan hidup atau untuk mendapatkan kedudukan. Banyak sekali cerita tentang perjuangan iman saudara-saudara seiman kita pada masa lalu yang memperjuangkan kesetiaannya dalam iman. Jika saat ini kita merasa nyaman untuk berbakti dan bisa melayani Tuhan dengan leluasa, ingatlah selalu untuk mempertahankan iman kita. Perjuangan iman adalah merupakan pengorbanan yang bisa membangkitkan keberanian kita untuk memberitakan nama Yesus. Kerelaan untuk tetap setia dalam iman itu sama dengan menabur, membentuk kita menjadi pribadi berjiwa besar yang bekerja sama untuk membentuk proyek-proyek Kerajaan Allah yang besar. ”Perjuangan iman menuntut pengorbanan, tetapi kemudian menghasilkan kemenangan yang gemilang”.

2.   Menghidupi Panggilan Kristus
Panggilan Tuhan bagi setiap orang yang dipilihNya tidak akan pernah mati. Panggilan ini memampukannya untuk terus hidup dalam visi dan beban yang Tuhan tanamkan di dalam hati kita. Hidup setiap orang percaya tidak dituntun oleh keinginan hatinya sendiri, tetapi oleh amanat (panggilan)Allah dalam hidupnya. Proses hidup manusia yang dipilih Allah memiliki tujuan dan target sesuai dengan panggilan Kristus. Sebagai orang percaya, kita perlu menyadari bahwa hubungan dengan Yesus adalah sebuah panggilan dari Allah, seperti kata Paulus, ”Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia” (1 Kort 1.9).Dengan demikian kita akan menghargai hubungan tersebut dan akan berusaha untuk memeliharanya. Mari kita mengambil waktu sejenak setiap hari untuk bersama-sama dengan Yesus. Rasakan kehadirannya dan menikmati kehangatan kasihNya, niscaya kita akan menjadi orang percaya yang teguh, penuh sukacita serta siap membangun hubungan dengan sesama. Mengabaikan hubungan dengan Yesus berarti sedang mengabaikan inti kehidupan rohani anda.

3.   Berjalan BersamaNya
Rick Warren mengatakan bahwa Tuhan menilik semua yang kita lakukan, Ia seorang Bapa yang selalu mengamati kegiatan anakNya. Pendeknya, kita tidak pernah lepas dari pandangan mataNya. Mata yang penuh belas kasihan, kemurahan dan rahmat. Kalau kita mau berjalan bersamaNya itu artinya bahwa perasaan yang sunyi tidak akan pernah menghantui kita. Dia tidak hanya mengetahui, tetapi Ia juga menyediakan jalan keluar dan jawaban untuk setiap pergumulan dan keluh kesahmu. Berjalan bersamaNya itu artinya mencari dan menghampiri Dia dalam segala keadaan, maka engkau akan merasakan sentuhan kasihNya yang berkuasa memulihkan keadaanmu, menghapus air matamu dan menjadikan segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin bagimu. ”kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan”(1 Petr 2.10). Ketika seseorang berada di dalam genggaman Tuhan, dia akan bersorak sekalipun di dalam ketakutan. Selamat menjadi umat pilihan Tuhan, tetaplah setia dalam iman, hidup dalam panggilan Kristus dan berjalanlah bersamaNya. Amen
                Tuhan menempatkan bangsa Israel menjadi bangsa yang terpilih bukan karna jumlahnya ( Ulangan 7. 7) akan tetapi karna pemilihan ini merupakan rencana Allah yang sudah jelas-jelas dikatakanNya kepada Abraham ”Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal,..."(Kej 17.7-8). Bangsa yang akan dibentuk Tuhan menjadi bangsa pilihan dan akan mendiami tempat yang telah ditentukan oleh Allah sendiri (lih Kej 37.9-11). Dari rancangan Allah ini bangsa/orang yang dipilihnya akan menjadikan Dia sebagai Allah yang benar-benar Tuhannya, dimana kehidupan umat pilihan Tuhan akan menunjukkan cara hidup dengan:

1.   Setia dalam iman
Begitu banyak orang Kristen yang kalah dalam mempertahankan imannya, ada yang menjual imannya karena harta, pasangan hidup atau untuk mendapatkan kedudukan. Banyak sekali cerita tentang perjuangan iman saudara-saudara seiman kita pada masa lalu yang memperjuangkan kesetiaannya dalam iman. Jika saat ini kita merasa nyaman untuk berbakti dan bisa melayani Tuhan dengan leluasa, ingatlah selalu untuk mempertahankan iman kita. Perjuangan iman adalah merupakan pengorbanan yang bisa membangkitkan keberanian kita untuk memberitakan nama Yesus. Kerelaan untuk tetap setia dalam iman itu sama dengan menabur, membentuk kita menjadi pribadi berjiwa besar yang bekerja sama untuk membentuk proyek-proyek Kerajaan Allah yang besar. ”Perjuangan iman menuntut pengorbanan, tetapi kemudian menghasilkan kemenangan yang gemilang”.

2.   Menghidupi Panggilan Kristus

Panggilan Tuhan bagi setiap orang yang dipilihNya tidak akan pernah mati. Panggilan ini memampukannya untuk terus hidup dalam visi dan beban yang Tuhan tanamkan di dalam hati kita. Hidup setiap orang percaya tidak dituntun oleh keinginan hatinya sendiri, tetapi oleh amanat (panggilan)Allah dalam hidupnya. Proses hidup manusia yang dipilih Allah memiliki tujuan dan target sesuai dengan panggilan Kristus. Sebagai orang percaya, kita perlu menyadari bahwa hubungan dengan Yesus adalah sebuah panggilan dari Allah, seperti kata Paulus, ”Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia” (1 Kort 1.9).Dengan demikian kita akan menghargai hubungan tersebut dan akan berusaha untuk memeliharanya. Mari kita mengambil waktu sejenak setiap hari untuk bersama-sama dengan Yesus. Rasakan kehadirannya dan menikmati kehangatan kasihNya, niscaya kita akan menjadi orang percaya yang teguh, penuh sukacita serta siap membangun hubungan dengan sesama. Mengabaikan hubungan dengan Yesus berarti sedang mengabaikan inti kehidupan rohani anda.

3.   Berjalan BersamaNya

Rick Warren mengatakan bahwa Tuhan menilik semua yang kita lakukan, Ia seorang Bapa yang selalu mengamati kegiatan anakNya. Pendeknya, kita tidak pernah lepas dari pandangan mataNya. Mata yang penuh belas kasihan, kemurahan dan rahmat. Kalau kita mau berjalan bersamaNya itu artinya bahwa perasaan yang sunyi tidak akan pernah menghantui kita. Dia tidak hanya mengetahui, tetapi Ia juga menyediakan jalan keluar dan jawaban untuk setiap pergumulan dan keluh kesahmu. Berjalan bersamaNya itu artinya mencari dan menghampiri Dia dalam segala keadaan, maka engkau akan merasakan sentuhan kasihNya yang berkuasa memulihkan keadaanmu, menghapus air matamu dan menjadikan segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin bagimu. ”kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan”(1 Petr 2.10). Ketika seseorang berada di dalam genggaman Tuhan, dia akan bersorak sekalipun di dalam ketakutan. Selamat menjadi umat pilihan Tuhan, tetaplah setia dalam iman, hidup dalam panggilan Kristus dan berjalanlah bersamaNya. Amen

Hidup Bersyukur

              Sekitar tahun 1960-an, Dr. Walter Mischel, professor dari Columbia University melakukan sebuah pengujian yang dikenal dengan nama marshmallow test. Marshmallow adalah permen yang sangat disukai anak-anak di Amerika Serikat karena manis dan menyegarkan tenggorokan. Tes tersebut dilakukan kepada anak-anak usia sekitar 4 tahun. Satu per satu anak-anak itu ditempatkan dalam sebuah ruangan dengan 1 kursi dan 1 meja, dimana di atas meja diletakkan sebuah marshmallow. Lalu anak-anak itu diberitahu oleh sang profesor, bahwa dia akan ditinggalkan selama 15 menit. Kalau anak-anak itu bisa menahan diri untuk tidak langsung memakan marshmallow tersebut sampai sang profesor datang, akan mendapat sebuah marshmallow extra sebagai hadiah. Tetapi kalau tidak bisa menahan diri, diminta untuk menekan bell, dan Dr. Mischell akan datang untuk mengijinkannya memakan marshmallow yang ada, atau malah boleh langsung makan marshmallow tersebut. Ternyata hanya beberapa orang saja yang mampu untuk menahan diri dan mendapat hadiah tambahan sebuah marshmallow. Selanjutnya, anak-anak tersebut diikuti perkembangannya dari tahun ke tahun. Ternyata, anak-anak yang tidak bisa menahan diri umumnya mengalami kesulitan dalam belajar dan anak-anak yang mampu menahan diri jauh lebih sukses dibandingkan mayoritas anak-anak yang tidak bisa menahan diri.
Ilustrasi diatas adalah merupakan suatu gambaran kecil, dimana manusia sulit untuk bertahan dan menguasai diri adalah salah pekerjaan yang sulit. Mengapa ini kami katakan? Saat ini bangsa kita selalu memberitakan bagaimana hancurnya NKRI, salah satunya diakibatkan oleh para pemimpin yang tamak, tidak puas bahkan tidak lagi peduli dengan orang sekelilingnya. Dan ada juga istilah “TEBANG PILIH” dan  “HUKUM RIMBA” seolah-olah tidak ada lagi aturan yang memberikan keamanan dan ketentraman. Kesemua hal tersebut merupakan fenomena yang menghancurkan nilai-nilai sosial saat ini.
Dalam Injil Lukas 3.11-14, Yohanes Pembaptis mengatakan ”Jangan merampas...cukupkanlah hidupmu dengan gajimu”(ay 14). Nats ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita di Minggu Advnet ke tiga ini. Dimana kita harus mampu berbagi dan selalu mensyukuri apa yang kita miliki, artinya bahwa segala sesuatu yang ada kita miliki jika Tuhan memberkati akan menjadi kesempatan kita untuk menikmati hidup jauh lebih baik dan sempurna. Oleh banyak ahli disimpulkan bahwa orang-orang yang bisa menunda kenikmatan sesaat demi mendapatkan kenikmatan yang jauh lebih besar adalah orang-orang yang sabar atau mampu menahan diri (Self-Restraint), Fokus, mampu menetapkan mana yang prioritas dan mana yang bukan prioritas, serta memiliki pandangan yang jauh ke depan (the Long-Range View). Amin

Kamis, 08 Desember 2011

Menjaga Bait Allah

                Perjalanan Yesus ke kota Yerusalem bukanlah tidak memiliki tujuan dan maksud, tetapi waktu untuk merayakan Paskah dalam agama Yahudi sudah dekat. Rombongan orang-orang datang berduyun-duyun untuk merayakan pesta Paskah di kota suci itu menjadikan kesempatan itu kembali melihat kampung halamannya dengan semangat yang luar biasa,  kerinduan untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan Allah mendorong mereka. Namun apa yang terjadi, Bait Allah yang mereka impikan selama ini sebagai tempat Kudus bersekutu dengan Allah, kini  sudah dikotori dengan para pedagang, disana-sini terjadi ketidakadilan sosial yakni ”terjadi pemerasan terhadap orang miskin di sekitar Bait Allah, kekudusan Bait Allah sudah dilecehkan”. Inilah yang dilihat oleh Yesus disekitar Bait Allah sehingga ia marah (Joh 2.13-22).
         Ada sebuah kisah; Seorang gadis yang sangat dimanja oleh ayahnya terjerumus ke dalam dunia narkoba. Ayahnya membesarkan gadis itu seorang diri, karena istrinya meninggal dunia ketika melahirkan putrinya tersebut. Karena semakin hari kebutuhannnya akan narkoba semakin meningkat, gadis itu nekat mencuri uang tabungan ayahnya, kemudian melarikan diri ke Jakarta. Di Jakarta ia tinggal di rumah pamannya dan berusaha mencari pekerjaan. Sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak membuat gadis itu terpaksa bekerja sebagai pramuria di sebuah night club. Di sana ia harus menjalani kehidupan dunia malam, ia harus menari dan tidur dengan pria yang berbeda setiap malamnya.
         Setelah satu bulan di Jakarta, ia tinggal di rumah kost dan mendapat sepucuk surat dari ayahnya. Dalam satu minggu ia mendapat tiga pucuk surat, namun tak satu pun yang dibacanya. Hari terus berganti dan ia mengumpulkan semua surat itu tanpa pernah dibaca. Menjelang hari Natal ia menerima sepucuk surat yang diantar ke night club tempat ia bekerja. Akhirnya dari seorang karyawan ia mengetahui bahwa yang mengantar surat itu adalah ayahnya sendiri. Kekerasan hati gadis itu akhirnya luluh, dengan tangan yang gemetar ia membuka dan membaca surat dari ayahnya, yang isinya sangat singkat. ”Anakku sayang, ayah sudah lama tahu di mana engkau bekerja. Saat ini hanya satu yang ayah inginkan, maukah kau pulang ke rumah kita?” Tiba-tiba gadis itu merasa sangat rindu pada ayahnya dan memutuskan untuk pulang. Singkat cerita ia pulang dan disambut oleh pelukan hangat sang ayah. Pertemuan mereka diwarnai oleh isak tangis yang panjang. Ternyata sejak ia pergi dari rumah, sang ayah kena penyakit kanker, hati gadis itu semakin hancur. ”Ayah, aku bukan puterimu yang sangat kau banggakan dulu. Aku hanyalah seorang pramuria yang kotor, bahkan tengah mengidap penyakit AIDS. Ayah, jangan dekati aku nanti ayah ketularan,” katanya sambil menangis. Ayahnya tidak berkata sepatah katapun, ia malah mempererat pelukannya, seolah tidak ingin melepaskan puteri yang kembali ke pangkuannya.
         Dari kisah di atas merupakan salah satu contoh kecil persoalan yang sedang di alami manusia di bumi yang kita cinta ini. Kecenderungan hati untuk berbuat dosa membuat hidup manusia terjebak di dalam lingkaran dosa dan tidak mampu untuk menjaga Bait Allah yakni Tubuh kita. Siapakah kita sehingga Tuhan mau melepaskan kita dari kehidupan yang gelap dan penuh dosa? Hanya satu jawabannya seperti yang dikatakan oleh Nabi Yesaya” Hai orang-orang yang jauh, dengarlah apa yang telah Kulakukan, hai orang-orang yang dekat, ketahuilah keperkasaan-Ku!”. Tuhan membuka hatiNya untuk menerima asalkan kita mau kembali kepada jalanNya, ingat kita sudah ditebus dari cara hidup yang sia-sia (I Petr 1.18-19; Jes 48.17). Rasul Paulus mengatakan ”Persembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; karna itulah ibadah yang sejati (Roma 12.1). Ia menantikan dan siap untuk memeluk kita dengan kasih setiaNya, berbaliklah kepada Tuhan dengan segenap hati dan beribadahlah hanya kepada-Nya (lht 1 Sam 7.3a). Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus (Rm 8.1).  Senangkanlah hati Allah, karena itulah tujuanNya ketika Ia menciptakan Anda dengan menjadikan hati, hidup, jiwa dan seluruh kehidupanmu menjadi Bait Allah. Amin
        


Yang terbaik bagi Tuhan

           Ada banyak alasan dan latarbelakang seseorang memberikan sesuatu kepada Tuhan sebagai tanda ucapan syukur atas kebaikan dan berkat yang sudah dirasakan. Memberikan yang terbaik sudah merupakan bagian hidup manusia ini boleh kita lihat dengan jelas dimana anak manusia pertama; Kain dan Habel memberikan persembahan kepada Tuhan (Kej 4.3-4). Namun apa yang terbaik bagi Tuhan itulah yang diberikan oleh Habel dan yang diterimah olehNya sebagai tanda ucapan syukur dihadapanNya. Berbeda dengan sikap dan perbuatan Kain yang memberikan yang tidak terbaik bagi Tuhan. Sebagai manusia yang sadar atas kebaikan Tuhan manusia sudah layaknya mempunyai dan memiliki tanggung jawab dihadapan Tuhan, namun bukan berarti bahwa Tuhan kita miskin akan tetapi itu adalah sebagai bukti bahwa manusia adalah sudah hidup dalam kasih Tuhan dan buktinya ia memberikan yang terbaik dihadapan Tuhan. Betania artinya adalah kota yang miskin namun perempuan memberikan minyak yang wangi sangat mahal seharga 300 dinar, gaji seorang pekerja dalam setahun(sekitar 20-30 Juta rupiah sekarang). Pernyataan Yesus atas tindakannya memberikan pelajaran kepada setiap orang percaya memberikan yang terbaik bagi Tuhan bukanlah dikarna kemampuan yang ada pada kita namun bagaimana kita bergerak memberikan dengan ketulusan hati yang bersih. Karena tidak ada kata ”pemborosan” untuk sebuah perbuatan kasih (lovely deep).
           Sepanjang sejarah, banyak orang telah membuktikan bahwa hidup benar di hadapan Tuhan tidaklah percuma., karena hal itu justru akan membawanya pada berbagai pengalaman dan pencapaian-pencapaian hidup yang lebih baik. Memang tidak dapat disangkali bahwa hidup benar di hadapan bukanlah pilihan yang populer di tengah dunia yang semakin jauh dari Tuhan. Manusia lebih memilih hidup menurut standar kebenaran yang dibuatnya sendiri demi mengejar harta, populeritas, dan jabatan. Tidak mengherankan jika akhirnya mereka mendapatkan kegagalan. Sebaliknya, orang yang hidup benar akan menjadi pemenang (2 Sam 22.21-25). Sangatlah tidak beralasan kalau seseorang beranggapan bahwa perbuatan benar itu percuma, karena Tuhan pasti akan membalasnya. Firman Tuhan berkata; ”Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang” (Mzm 37.6).  Jangan pernah takut untuk menabur, karena ketika kita menabur kebaikan walaupun sedikit, ia akan dilipatgandakan oleh Tuhan yang memang ahli pelipatgandaan. Singkirkanlah karat-karat kekuatiran dan kekikiran dan hidup kita, demi kelancaran aliran berkat yang baru. Kita harus menyadari setiap manusia diperlengkapi dengan potensi yang berbeda-beda.
           Tindakan kasih perempuan ini mengajak kita agar kita melakukan tindakan kasih pada saat yang tepat. Sebuah pemberian jauh lebih bernilai bila diberikan pada saat yang tepat. Segelas air di gurun pasir jauh lebih berharga daripada seember air di tepi sumur, jauh lebih berharga dan bernilai bila kita memberikan uang sepuluh ribu rupiah kepada seseorang ketika dia masih gelandangan daripada memberikan sepuluh juta setelah ia menjadi konglomerat. Nyanyian orang Batak ”Uju dingolungkon ma nian, tupa ma bahen angka na denggan”. Biasa setelah orang tuanya sakit parah kemudian diberikan makan yang enak, bagaimana ia akan menikmatinya, setelah mati didirikan tugu yang seharga ratusan juta, namun ketika masih hidup dibiarkan tidur di tikar yang busuk dan penuh ngegat. Tidak akan ada yang percuma bagi Tuhan....Amin