Selasa, 24 Januari 2012

Mendengar Tuhan

Tiga tokoh yang kita lihat dari nats kita; Eli yang sudah tua, Samuel yang masih Muda dan suara Tuhan yang memanggil Samuel.  Eli yang sudah tua dan rabun, tetap setia dalam membimbing Samuel bagaimana ia mendidiknya supaya mengantikannya kelak. Kepekaan Samuel atas situasi membuatnya semakin memahami apa yang akan ia lakukan kelak sebagai pelayan dalam Bait Allah. Dan suara yang menguatkan penyertaaan Tuhan walaupun ia masih muda ditempatkan pada pelayanan yang akan diembannya di kemudian hari.

Kita hidup di dunia ini diperhadapkan pada berbagai suasana yang kadang kala membingungkan. Banyaknya suara yang menyuarakan kedamaian, cinta kasih dan kemudahan-kemudahan yang tidak jelas arahnya kemana tujuannya. Ada begitu banyak suara-suara yang sering membuat kehidupan manusia itu tidak mampu membedakan mana suara Tuhan dan mana suara dunia ini. Dalam situasi kehidupan sekarang banyak hal-hal yang memperdengarkan sesuatu kepada kita, menggoda kita untuk bertindak. Suaranya sangat manis tanpa kita sadari justru menghasut hasrat dan keinginan kita. Perlu kehati-hatian dalam memaknai suara-suara yang datang dari dunia karena tidak selalu berbuah kebaikan.

Seorang hamba yang baik tidak mementingkan kebutuhan dirinya sendirinya. Ia sadar akan tugasnya dan siap melaksanakan apa yang hendak diperintahkan oleh tuannya. Demikian juga sebaliknya bahwa seorang tuan yang baik juga memperhatikan kenyamanan hambanya. Tidak egois tetapi memperlakukan hambanya sebagai manusia sama seperti dirinya.

Nats (1 Sam 3.1-10) kita kali ini menceritakan bagaimana posisi Samuel yang diganggu oleh suara Tuhan, yang pada awalnya ia tidak mengetahui bahwa itu adalah suara Tuhan. Namun walaupun demikian, ia tetap siap-sedia menjawab akan suara itu, ini boleh kita lihat dari pernyataannya, pada ayat terakhir ”Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar”(ay 10). Pada awalnya kehadiran suara itu tidaklah dimengerti olehnya, ia hanya berfokus pada Eli ”Ya bapa, bukankah bapa memanggil aku?”(ay 5).

Hawa jatuh kedalam dosa karena ia lebih mendengar iblis. Adam ikut terlibat dalam dosa tersebut karena mendengar perkataan Hawa. Mendengarkan manusia tidak selalu mendatangkan kebenaran. Manusia sering memperdengarkan kesesatan, tetapi Tuhan memperdengarkan keselamatan. Mendengarkan manusia menghadirkan keletihan dan rasa palsu, tetapi dengan mendengar Tuhan akan mendatangkan kelegahan. Kemanakah pendengaran kita arahkan?Menghambakan pendengaran terhadap idiologi, paham, budaya yang didengungkan, atau sebaliknya kepada Tuhan. Mendengar kepada Tuhan adalah solusi mengatasi seluruh persoalaan hidup, usaha menata keseimbangan dan tindakan manjaga harmoni. Amin  

Pertobatan Buah KasihNya

Dari nats Markus 1.4-11 kali ini adalah dua topik yang dibahas pada minggu I setelah Epipahanis kali ini, salah satunya ialah; Ajaran dan khotbah Yohanes Pembaptis yang menyatakan untuk melakukan ”Pertobatan” (Mrk 1.4), dan yang kedua; ”kepadaMulah Aku berkenan” (Mrk 1.11). Dari kedua topik ini kita mengawali kehidupan pada tahun 2012 ini dengan memahami bahwa buah dari Kasih Tuhan yang mengantarkan kita untuk menjalani kehidupan yang belum tauh apa yang akan kita hadapi pada tahun 2012. Namun walaupun itu masih dalam tahap untuk menjalani tahun 2012, namun ada yang akan kita lakukan yaitu; melihat kebaikan Tuhan yang kita rasakan pada tahun 2011 dan kekuatan Tuhan menentukkan langkah kita bagi anak-anakNya. Apa saja yang boleh dipertontongkan hidup bertobat dan bagi orang dikasihi Tuhan?
v  Hidup dalam kesalehan
Kadang masalah kesalehan atau ketaatan menjadi ”barang asing” bagi sebagian orang Kristen. Ada berbagai alasan yang diajukan untuk tidak taat, misalnya, ”yang penting kan hatinya.” atau alasan lain, ”Saya tidak mau terjebak sehingga kembali ke PL, hidup di bawah hukum.” Tentu saja ini alasan yang mengada-ada. Bukankah orang yang sungguh-sungguhg percaya dan menerima Yesus di dalam hatinya akan nampak dari hidupnya saleh atau taat? Kesalehan perlu sejalan dengan beriman kepada Yesus. Sebaliknya, kesalehan menjadi sia-sia ketika seseorang tidak mau percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Di samping itu, kesalehan sangat berguna di dalam kaitannya dengan kesaksiaan dan pekabaran Injil. Mari tunjukkan iman kita di dalam kehidupan yang saleh dan taat, bukan sekedar percaya!
v  Rendah hati
Rendah hati itu tidak mudah, sebab di dalam diri manusia ada keinginan untuk dihargai dan menghargai diri sendiri secara berlebihan. Apalagi jika sisi luar mendukung untuk dihargai, misalnya, dia orang yang tampan atau cantik, dia orang yang pandai, dia mempuyai banyak harta, dia mempunyai jabatan. Di samping itu, kesulitan lain untuk bisa rendah hati adalah pikiran yang salah, yaitu kalau nanti merendahkan hati akan dianggap lemah dan semakin direndahkan orang lain. Tuhan menginginkan kita untuk rendah hati, seperti nasihat Petrus, ”Rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab; Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihi orang yang rendah hati” (1 Petr 5.5)
v  Bebas dari Ikatan
Saat ini kita menyadari betapa banyak dosa yang telah kita lakukan. Namun ketika kita memutuskan untuk menerima Dia, kita akan merasakan sebagai ciptaan yang baru, hidup yang diubahkan. Kebebasan yang sesungguhnya hanya ada di dalam Yesus, sehingga Tuhan dari sorga berseru” Engkaulah AnakKu yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”! Selamat bertobat dan berbuah dalam kasihNya. Amin 

Selasa, 27 Desember 2011

”Kristus Dasar Hidup Rumah Tangga Kristen”

Menurut Charles H.Spurgeon mengatakan:”Apabila rumah tangga dikendalikan menurut Firman Tuhan, maka malaikat-malaikat dapat diundang untuk tinggal bersama dengan kita, dan mereka pasti akan merasa betah dan senang”. Namun kenyataan bahwa banyak rumah tangga Kristen tidak dikendalikan oleh firman Tuhan. Bicara soal keluarga erat hubungannya soal lembaga pernikahan. Pernikahan ada di dunia ini bukan karena kebetulan atau karena kemauan manusia. Jadi, pernikahan adalah rencana Allah yang indah untuk kebahagian manusia (Kej 1.26-28; 2.18-25).
Mengapa Tuhan marah kepada bangsa Israel bahkan tidak lagi mendengarkan suara doa dan tangisnya?(Maleaki 2.13-16). Mereka tidak setia kepada pasangan hidupnya, terjadi kawin campur sehingga iman mereka tidak kudus dihadapan Tuhan, jatuh pada dosa. Dengan itu maka iman mereka tidak lagi hanya kepada Allah namun sudah ikut menyembah dewa. Menajiskan perjanjian Allah (ay 10) penghianatan terhadap iman dan menajiskan tempat kudus (ay 11), dan juga ketidaksetiaan (ay 14) maka mereka tidak dapat membedakan mana yang benar dan yang salah (bng Yes 61.10; Efs 4.22-24; Kol 3.9-10). Mereka kembali kepada sikap dan tindakan yang lama dasar hidup yang rapuh (lih Mal 3.7). Kemarahan Tuhan terjawab ketika bangsa ini kembali kepada Tuhan atas tagisan dan doa pertobatannya(Mal 3.10) ketika firman menjadi dasar hidup maka berkat-berkat Tuhan akan dirasakan/nikmati. Ketika mereka hidup dalam iman yang setia maka jawaban Tuhan terbukti dengan tindakan atas janji kesetiaanNya dikatakan; ”Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia” (Mal 3.17). 
Surat Paulus kepada jemaat di Efesus juga menasehati istri dan suami agar tunduk dan setia dengan pasanganya sama seperti kepada Tuhan (efs 5.22; Kej 3.16; Kol 3.18). Dengan tujuan agar dasar keluarga yang diikat oleh kesetiaan, saling menghargai. Dasarnya ialah; 1).ikatan cinta kasih (Kol 3.18-19). 2).Hidup dalam pengudusan (1 Tes 4.4-5), 3). jauh dari penghianatan(Amsal 12.4). Ketika hubungan ini setia dan didasari kasih sayang maka berkat Tuhan akan berlimpah ruah. Keluarga Kristen merupakan gambaran ketaatan dan kesetiaanNya dalam tugasNya memberikan keselamatan. Paulus mengatakan ”Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil 2.8).
Banyak keluarga diambang kehancuran karena berbagai alasan; tidak cocok lagi, selingkuh, hempitan ekonomi dan juga karna tidak adanya keturunan. Mengapa ini bisa terjadi? Sebab mereka tidak didasari Tuhan Yesus, tidak diikat cinta kasih, pernikahan tidak kudus dan tindakan penghianatan  pada ”Janji Suci” yang dinyatakan ketika menerima pemberkatan nikah dihadapan Tuhan. Siapapun orangnya tidak mau dikhiati! (Mal 2.16). Ada juga rumah tangga berjalan tanpa ada nakhodanya, suami cari makan dan istri sibuk dengan urusan diri sendiri, anak beranntakan sehingga hubungan harmonis hilang ditelan sifat egois, cuek dengan dirinya sendiri sehingga tidak ada kedamaian, tidak ada lagi kesetiaan. Kita harus mempunyai sikap yang berbeda dengan dunia yang tidak mengenal Tuhan, kita harus hidup tunduk, taat bersikap setia dengan kata lain kita harus tetap setia. Allah merencanakan kebahagian yang diikat oleh kasih Allah. Kebahagian dimiliki oleh tiap pasangan yang didasari oleh sikap taat, setia, rasa hormat dan menjadi satu daging. Jangan biarkan kebahagian rumah tangga dihancurkan oleh iblis, datanglah dan kembali kepada ajaran Kristus Yesus. Kristus yang menjadi dasarnya, kasih yang mengikatnya, cinta yang menyiraminya setiap saat, hidupmu akan bahagia. Amin

Sabtu, 24 Desember 2011

Makna Minggu Adven

ADVEN berasal dari bahasa Latin: adventus. Arti hurufiahnya: kedatangan. Gereja mengartikannya sebagai persiapan atau penantian kedatangan Yesus Kristus, Putra Allah. Menurut kalender ibadah atau Tahun Gerejawi yang dianut juga oleh HKBP maka sebelum Hari Raya Natal atau perayaan kedatangan Yesus melalui kelahiranNya di Betlehem, maka ada 4(empat) minggu Adven. Saban minggu Adven itu ditandai dengan penyalaan lilin: satu lilin di minggu adven pertama, dua lilin di minggu adven kedua, dan seterusnya. Menurut tradisi gereja tiga lilin adven itu berwarna ungu atau violet, menyimbolkan pertobatan, pengharapan dan penantian. Namun lilin adven ketiga justru berwarna merah muda, hendak menyimbolkan sukacita pengharapan yang tidak tertahankan lagi karena kelahiran Tuhan sudah sangat dekat. Tradisi gereja juga mengenal lingkaran Adven, yaitu dedaunan segar (bukan plastik imitasi) dan buah berry merah yang dipasang di bawah lilin atau di dinding, melambangkan kehidupan yang segar abadi (evergreen). Namun sangat disesalkan kita hampir tidak dapat lagi menghayati suasana Adven itu di gereja-gereja kita kalangan protestan, sebab jika kita jujur, kalender ibadah gereja kita khususnya di sekitar Desember telah kacau. Makna Adven hilang karena perayaan-perayaan natal justru telah berlangsung saat gereja seharusnya masih menanti-nanti atau mempersiapkan hati menyambut kelahiran Juruslamatnya.
Apakah sebenarnya makna Adven bagi kita?
Pertama: panggilan pertobatan
Pertobatan adalah sikap yang paling pas untuk menyambut kedatangan Tuhan, baik di kedatanganNya yang mulia di hari agung nanti maupun dalam keseharian hidup ini. Pertobatan juga merupakan sikap yang paling sesuai untuk merayakan Hari Natal. Dahulu kedatangan Yesus Sang Mesias juga didahului oleh kedatangan sang perintis Yohanes Pembaptis yang membawa undangan pertobatan: tanah yang berbukit-bukit harus diratakan dan jalan yang berlekuk-lekuk harus diluruskan! Sebab itu baiklah kita sadar bahwa lilin yang kita nyalakan pada minggu Adven bukan hanya lilin penantian, tetapi juga lilin pertobatan. Bukan pertobatan artifisial dan seremonial namun pertobatan hati yang sungguh-sungguh menerima dan menyambut Dia sebagai Raja, Penguasa dalam hati dan jiwa kita.
Pertobatan bukanlah sekadar penyesalan dengan kata-kata, tetapi suatu tekad untuk memberikan diri diubah dan dibaharui Roh Kudus. Pertobatan bagi kita adalah kerelaan untuk terus-menerus menjadi manusia baru yang kehadiran dan karyanya bermakna, memberi jalan keluar, dan mendorong sukacita dunia ini. Sebab itu masa Adven juga merupakan kesempatan emas bagi kita merenungkan kemanusiaan kita yang sesungguhnya. Sebagaimana Yesus datang untuk melayani dan mengasihi, demikian jugalah kita dipanggil untuk datang melayani dan mengasihi sesama kita. Sebagaimana Kristus sepanjang hidupNya menyerahkan diri bagi keselamatan dunia ini, demikian jugalah kita diajak untuk tidak pernah lelah dan jemu mengabdi untuk membuat dunia ini menjadi lebih sejahtera, adil dan baik.
Inilah dasarnya mengapa gereja melarang pesta natal saat minggu-minggu Adven atau sebelum 25 Desember, yaitu agar kita lebih dulu melakukan permenungan yang dalam dan tulus lantas bertobat. Namun banyak orang sekarang tidak mau lagi bermenung (dan karena itu harusnya disangsikan pertobatannya!) dan hanya suka berpesta natal saja semeriah-meriahnya dan sehebat-hebatnya. Kepada orang-orang ini mau dikatakan: natal tanpa pertobatan adalah kosong.
Kedua: peneguhan pengharapan.
Minggu Adven adalah minggu pengharapan. Gereja, sama seperti umat Israel, hidup dari pengharapannya. Walaupun kenyataan hidup sulit atau penuh dengan penderitaan, gereja tetap berharap kepada Allah. Tak ada satu kondisi pun di dunia ini atau dalam diri kita yang boleh membuat kita putus asa dan mati rasa (apatis). Tuhan Allah hidup dan setia. Dia berjanji akan datang membebaskan kita umatNya dan memulihkan keadaan. Dialah sumber pengharapan kita.
Dengan merayakan minggu Adven gereja mau meneguhkan kembali pengharapannya dan imannya kepada Allah. Lilin Adven yang kita nyalakan itu adalah simbol pengharapan kita yang tidak pernah padam.
Ketiga: Sukacita pengharapan
Pertobatan kita bukanlah pertobatan yang dipaksa, namun pertobatan yang ikhlas. Pertobatan kita juga bukanlah syarat yang diwajibkan Tuhan untuk menerima berkatNya, tetapi jawaban tulus kita kepada Dia yang menerima dan memberkati kita justru tanpa syarat apapun. Sebab itulah pertobatan kita melahirkan sukacita yang sangat dalam.
Namun bukan hanya itu. Minggu Adven mengajak kita membaharui kembali pengharapan kita. Yaitu pengharapan kepada Tuhan yang akan datang segera menolong dan membebaskan kita. Pengharapan itu melahirkan sukacita sebab kita tahu Tuhan yang menjadi gantungan harapan itu setia. (Roma 12:12). Pengharapan itulah yang meneguhkan hati kita di tengah-tengah realitas kehidupan yang penuh kekerasan, persaingan mematikan, ambisi tidak terkendali, manipulasi dan egoisme. Pada akhirnya pengharapan itu juga yang memberi kita kekuatan dan kegembiraan untuk tetap hidup sebagai manusia, yang taat kepada Allah dan mengasihi sesama.
Pada minggu Adven ketiga ini sukacita kita meluap dan tidak tertahankan lagi sebab natal sudah semakin dekat. Persis seperti sukacita seorang ibu yang sebentar lagi akan melahirkan anaknya. Atau sukacita seorang petani menjelang panen tiba. Atau sukacita seorang anak yang esok hari akan ulang tahun. Dalam tradisi gereja lilin minggu Adven ketiga itu berwarna merah jambu melambangkan sukacita yang besar itu.
Keempat: penantian yang panjang.
Alkitab menyaksikan kelahiran Yesus adalah peristiwa besar yang telah dijanjikan Allah jauh sebelumnya melalui para nabiNya. Dengan merayakan Adven (sampai empat minggu berturut-turut) gereja bukan hanya mengenang tetapi menyatukan dirinya dengan para nabi serta umat Allah di Perjanjian Lama yang menanti-nantikan kedatangan Mesias atau Sang Penebus. Masa Adven itu mengingatkan kita kepada penantian dan persiapan para nabi akan kedatangan Juruslamat yang dijanjikan Allah. Sebab itu dengan setia kepada minggu-minggu Adven itulah kita dapat menemukan makna Hari Raya Natal yang sesungguhnya. Yaitu hari kelahiran Tuhan yang dijanjikan Allah dan kita nantikan itu.
Gereja percaya bahwa Yesus yang lahir di Betlehem dahulu kata, mati dan bangkit sekarang duduk di sebelah kanan Allah memerintah. Namun Dia berjanji akan datang kembali. KedatanganNya kembali ke dunia inilah yang sekarang sedang dinanti-nantikan oleh gereja. Sebab itu minggu Adven bagi kita bukan sekadar kenangan ke masa silam atau tepatnya kenangan akan penantian para nabi dan umat Allah di masa Perjanjian Lama, tetapi juga harapan ke masa depan, yaitu penantian gereja kepada Kristus yang akan datang kembali. Kapan? Tidak seorang pun mengetahuinya. Masih lama atau sudah dekat? Yang jelas semakin hari semakin dekat, namun tetap tidak bisa dipastikan saatnya. Alkitab mengatakan kedatangan Kristus Sang Kudus itu di saat tidak terduga, persis kedatangan “seorang pencuri”. Yang penting: nantikanlah terus kedatanganNya. Dan sambil menanti: tetaplah bekerja dan tunaikan semua tugas dan tanggungjawab. Persis seperti kata bapa gereja Martin Luther: seandainya Kristus datang besok hari, maka aku akan tetap menanam pohon apel hari ini.
Kita beriman sebelum hari kedatanganNya yang agung itu, Tuhan datang dan selalu hadir dalam kehidupan kita. Itulah juga yang hendak kita renungkan dan hayati melalui minggu Adven. Kita juga sedang menanti-nantikan Dia datang dalam keseharian kita, menolong dan membebaskan kita dari berbagai hal dan untuk bermacam hal di realitas ini.
Melalui minggu-minggu Adven ini jugalah kita diingatkan akan penantian-penantian kita dalam kehidupan ini. Ada banyak sekali yang mungkin kita nantikan di kenyataan hidup ini: kehamilan, kelahiran anak, panen, hasil usaha, pengabulan doa, kesembuhan, pertemuan dengan kekasih, dan berbagai penantian panjang lain yang memerlukan ketekunan doa dan tak jarang mendorong air mata. Melalui minggu Adven kita hendak berdoa agar Allah memberkati dan meneguhkan hati kita menyambut semua penantian kita dan saudara-saudara itu. Sebab itu minggu Adven juga merupakan saat-saat untuk berdoa dan berpuasa. Belum untuk berpesta!
Siapa menghilangkan Adven akan kehilangan Natal
Dengan pemahaman di atas sadarlah kita betapa berharganya masa-masa Adven bagi kita. Tanpa melalui peringatan akan Adven sebagai minggu-minggu permenungan dan saat-saat bertobat, berharap, bersukacita dan menanti kita tidak akan mampu menangkap sukacita Natal yang sesungguhnya. Ingat: Natal hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang mau menyatukan diri dalam penantian umat yang begitu panjang akan kedatangan Juruslamatnya. (Umat purba menanti Mesias ratusan tahun, namun banyak umat kristen moderen menunggu satu bulan saja pun tak mau). Tanpa Adven, Natal hanya jatuh ke dalam hiruk-pikuk dan seremoni kosong.



Minggu, 11 Desember 2011

”Ikutlah Aku”

Apa yang dijanjikan oleh Yesus ketika mereka mengikut Dia? Ketika Simon Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes meninggalkan pekerjaan mereka ( Penjala ikan ) sebagai sumber kehidupan  kekayaan, apakah dengan mengikut Yesus mereka mendapatkan pekerjaan / kekayaan yang lebih baik ? Ternyata tidak. Apabila pemuda kaya di dalam Matius 19 : 21 menjual kekayaannya semua  (Seperti yang diperintahkan Yesus ), dan dia mengikut Yesus apakah dia akan mendapatkan kekayaan yang lebih lagi dari kekayaannya yang lama ? Ketika ada panggilan "Ikutlah Aku" kepada anda, apakah yang anda harapakan ? Semasa hidupnya di dunia, Yesus adalah orang miskin. Bahkan Dia tidak pernah membawa uang sepeserpun dalam pelayanan-Nya. Mengikut Yesus sama sekali bukanlah ikut melangkahkan kaki secara lahiriah. Ketika Yesus mengingatkan Petrus untuk mengikutiNya menjelang kepergianNya ke Surga, itu bukan dimaksudkan agar Petrus mengikuti Dia sekalian ke Surga. Orang-orang yang dipanggil untuk ikut Yesus dimaksudkan agar menyerahkan hidupnya bagi DIRI YESUS yang merupakan pusat keselamatan yang sejati, yaitu 'Akulah jalan dan kebenaran dan hidup' (Yohanes 14:6). Keselamatan dan berkat-berkat Abraham adalah tertanam dalam diriNya, bukan dalam filosofi tentang diriNya. Karena itu ada perbedaan besar antara "Ikutlah Aku" (baca: Ikutlah Yesus, disingkat IA) dan "ikutlah agamaku" (baca: ikut sebuah agama, disingkat IAK).
Di dunia ini kita berhadapan dengan 2 mazhab pengikut seperti itu, satu dan lainnya mencari keselamatan dengan cara yang sangat berbeda secara mendasar. Beberapa kesenjangan yang pokok kita ringkaskan disini : 1.Kesenjangan kedekatan dengan sumber Firman Konsep (IA) memfokuskan Yesus sebagai Pribadi Firman ("Pemilik-firman") yang berfirman dan berelasi langsung dengan pengikut firmanNya, yang sekaligus menjadi saksi mata atas firmanNya. 2.Kesenjangan akan jaminan keselamatan Konsep "Ikutlah Aku" mengakui Yesus Kristus sebagai pemilik dari pengikutNya. Mereka adalah doma-domba milikNya dan Dia adalah Gembala yang baik, Penyelamat (penebus) dan yang empunya Surga : Keselamatan adalah anugerah langsung dan pasti dari Sang Gembala kepada domba-domba yang berelasi dengan diriNya. Maka keselamatan-kekal bukanlah hasil-usaha manusia, karena manusia yang tidak kekal (yaitu domba yang lemah, rapuh dan rawan, yang amat tak berdaya dihadapan Tuhan) sungguh tak mampu mengusahakan sebuah keselamatan kekal bagi dirinya. Menyelamatkan diri kita sendiri saja kita tidak sanggup; maka bagaimana dapat kita menyelamatkan diri kita dari neraka, suatu kematian kekal akibat dosa-dosa kita? 3.Kesenjangan peluang keselamatan karena beda ilmu agamanya Konsep (IAK) mutlak menuntut pemahaman ilmu agama bagi setiap pengikut yang benar, yaitu penguasaan pasal-pasal hukum, akidah, ritual ibadah, aturan-aturan upacarawi keagamaan, jenis pahala dan bobotnya dll. agar dapat mengoperasikannya secara benar dan maksimal apa-apa yang diharuskan dan yang seyogyanya dalam aturan agamanya. Juga apa-apa yang harus diharamkan, dan apa yang masih boleh ditoleransikan. Dengan demikian, tentu banyak aturan-aturan yang masih "tersembunyi" bagi para pengikutnya, baik yang tersurat, yang tersirat, perbedaan tafsir dan mazhab, dan bagaimanapun memang ada saja yang tidak mampu tahu semuanya!
Mengikut Yesus adalah merupakan suatu keputusan yang tepat agar kita melihat kemuliaan Tuhan dalam setiap unsur kehidupan kita. Ketika Mengikut Dia disinilah hilangnya kesenjangan kedekatan, jamiman dan peluang akan kita dapatkan bersama Yesus. Dialah Allah yang setiap dan Bapa yang memikirkan apa yang terbaik dalam seluruh kehidupan kita semua umatNya. Kita akan kaya dalam kasih, sukacita, kemuliaan dan kebahagian bersama denganNya. Ikulah Dia jangan tundah hari-harimu bersama dengan berkat-berkatNya, belajar menaati firmanNya sama dengan mengiku Dia. Amin

Jumat, 09 Desember 2011

Umat Pilihan Tuhan


Tuhan menempatkan bangsa Israel menjadi bangsa yang terpilih bukan karna jumlahnya ( Ulangan 7. 7) akan tetapi karna pemilihan ini merupakan rencana Allah yang sudah jelas-jelas dikatakanNya kepada Abraham ”Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal,..."(Kej 17.7-8). Bangsa yang akan dibentuk Tuhan menjadi bangsa pilihan dan akan mendiami tempat yang telah ditentukan oleh Allah sendiri (lih Kej 37.9-11). Dari rancangan Allah ini bangsa/orang yang dipilihnya akan menjadikan Dia sebagai Allah yang benar-benar Tuhannya, dimana kehidupan umat pilihan Tuhan akan menunjukkan cara hidup dengan:

1.   Setia dalam iman
Begitu banyak orang Kristen yang kalah dalam mempertahankan imannya, ada yang menjual imannya karena harta, pasangan hidup atau untuk mendapatkan kedudukan. Banyak sekali cerita tentang perjuangan iman saudara-saudara seiman kita pada masa lalu yang memperjuangkan kesetiaannya dalam iman. Jika saat ini kita merasa nyaman untuk berbakti dan bisa melayani Tuhan dengan leluasa, ingatlah selalu untuk mempertahankan iman kita. Perjuangan iman adalah merupakan pengorbanan yang bisa membangkitkan keberanian kita untuk memberitakan nama Yesus. Kerelaan untuk tetap setia dalam iman itu sama dengan menabur, membentuk kita menjadi pribadi berjiwa besar yang bekerja sama untuk membentuk proyek-proyek Kerajaan Allah yang besar. ”Perjuangan iman menuntut pengorbanan, tetapi kemudian menghasilkan kemenangan yang gemilang”.

2.   Menghidupi Panggilan Kristus
Panggilan Tuhan bagi setiap orang yang dipilihNya tidak akan pernah mati. Panggilan ini memampukannya untuk terus hidup dalam visi dan beban yang Tuhan tanamkan di dalam hati kita. Hidup setiap orang percaya tidak dituntun oleh keinginan hatinya sendiri, tetapi oleh amanat (panggilan)Allah dalam hidupnya. Proses hidup manusia yang dipilih Allah memiliki tujuan dan target sesuai dengan panggilan Kristus. Sebagai orang percaya, kita perlu menyadari bahwa hubungan dengan Yesus adalah sebuah panggilan dari Allah, seperti kata Paulus, ”Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia” (1 Kort 1.9).Dengan demikian kita akan menghargai hubungan tersebut dan akan berusaha untuk memeliharanya. Mari kita mengambil waktu sejenak setiap hari untuk bersama-sama dengan Yesus. Rasakan kehadirannya dan menikmati kehangatan kasihNya, niscaya kita akan menjadi orang percaya yang teguh, penuh sukacita serta siap membangun hubungan dengan sesama. Mengabaikan hubungan dengan Yesus berarti sedang mengabaikan inti kehidupan rohani anda.

3.   Berjalan BersamaNya
Rick Warren mengatakan bahwa Tuhan menilik semua yang kita lakukan, Ia seorang Bapa yang selalu mengamati kegiatan anakNya. Pendeknya, kita tidak pernah lepas dari pandangan mataNya. Mata yang penuh belas kasihan, kemurahan dan rahmat. Kalau kita mau berjalan bersamaNya itu artinya bahwa perasaan yang sunyi tidak akan pernah menghantui kita. Dia tidak hanya mengetahui, tetapi Ia juga menyediakan jalan keluar dan jawaban untuk setiap pergumulan dan keluh kesahmu. Berjalan bersamaNya itu artinya mencari dan menghampiri Dia dalam segala keadaan, maka engkau akan merasakan sentuhan kasihNya yang berkuasa memulihkan keadaanmu, menghapus air matamu dan menjadikan segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin bagimu. ”kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan”(1 Petr 2.10). Ketika seseorang berada di dalam genggaman Tuhan, dia akan bersorak sekalipun di dalam ketakutan. Selamat menjadi umat pilihan Tuhan, tetaplah setia dalam iman, hidup dalam panggilan Kristus dan berjalanlah bersamaNya. Amen
                Tuhan menempatkan bangsa Israel menjadi bangsa yang terpilih bukan karna jumlahnya ( Ulangan 7. 7) akan tetapi karna pemilihan ini merupakan rencana Allah yang sudah jelas-jelas dikatakanNya kepada Abraham ”Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal,..."(Kej 17.7-8). Bangsa yang akan dibentuk Tuhan menjadi bangsa pilihan dan akan mendiami tempat yang telah ditentukan oleh Allah sendiri (lih Kej 37.9-11). Dari rancangan Allah ini bangsa/orang yang dipilihnya akan menjadikan Dia sebagai Allah yang benar-benar Tuhannya, dimana kehidupan umat pilihan Tuhan akan menunjukkan cara hidup dengan:

1.   Setia dalam iman
Begitu banyak orang Kristen yang kalah dalam mempertahankan imannya, ada yang menjual imannya karena harta, pasangan hidup atau untuk mendapatkan kedudukan. Banyak sekali cerita tentang perjuangan iman saudara-saudara seiman kita pada masa lalu yang memperjuangkan kesetiaannya dalam iman. Jika saat ini kita merasa nyaman untuk berbakti dan bisa melayani Tuhan dengan leluasa, ingatlah selalu untuk mempertahankan iman kita. Perjuangan iman adalah merupakan pengorbanan yang bisa membangkitkan keberanian kita untuk memberitakan nama Yesus. Kerelaan untuk tetap setia dalam iman itu sama dengan menabur, membentuk kita menjadi pribadi berjiwa besar yang bekerja sama untuk membentuk proyek-proyek Kerajaan Allah yang besar. ”Perjuangan iman menuntut pengorbanan, tetapi kemudian menghasilkan kemenangan yang gemilang”.

2.   Menghidupi Panggilan Kristus

Panggilan Tuhan bagi setiap orang yang dipilihNya tidak akan pernah mati. Panggilan ini memampukannya untuk terus hidup dalam visi dan beban yang Tuhan tanamkan di dalam hati kita. Hidup setiap orang percaya tidak dituntun oleh keinginan hatinya sendiri, tetapi oleh amanat (panggilan)Allah dalam hidupnya. Proses hidup manusia yang dipilih Allah memiliki tujuan dan target sesuai dengan panggilan Kristus. Sebagai orang percaya, kita perlu menyadari bahwa hubungan dengan Yesus adalah sebuah panggilan dari Allah, seperti kata Paulus, ”Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia” (1 Kort 1.9).Dengan demikian kita akan menghargai hubungan tersebut dan akan berusaha untuk memeliharanya. Mari kita mengambil waktu sejenak setiap hari untuk bersama-sama dengan Yesus. Rasakan kehadirannya dan menikmati kehangatan kasihNya, niscaya kita akan menjadi orang percaya yang teguh, penuh sukacita serta siap membangun hubungan dengan sesama. Mengabaikan hubungan dengan Yesus berarti sedang mengabaikan inti kehidupan rohani anda.

3.   Berjalan BersamaNya

Rick Warren mengatakan bahwa Tuhan menilik semua yang kita lakukan, Ia seorang Bapa yang selalu mengamati kegiatan anakNya. Pendeknya, kita tidak pernah lepas dari pandangan mataNya. Mata yang penuh belas kasihan, kemurahan dan rahmat. Kalau kita mau berjalan bersamaNya itu artinya bahwa perasaan yang sunyi tidak akan pernah menghantui kita. Dia tidak hanya mengetahui, tetapi Ia juga menyediakan jalan keluar dan jawaban untuk setiap pergumulan dan keluh kesahmu. Berjalan bersamaNya itu artinya mencari dan menghampiri Dia dalam segala keadaan, maka engkau akan merasakan sentuhan kasihNya yang berkuasa memulihkan keadaanmu, menghapus air matamu dan menjadikan segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin bagimu. ”kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan”(1 Petr 2.10). Ketika seseorang berada di dalam genggaman Tuhan, dia akan bersorak sekalipun di dalam ketakutan. Selamat menjadi umat pilihan Tuhan, tetaplah setia dalam iman, hidup dalam panggilan Kristus dan berjalanlah bersamaNya. Amen

Hidup Bersyukur

              Sekitar tahun 1960-an, Dr. Walter Mischel, professor dari Columbia University melakukan sebuah pengujian yang dikenal dengan nama marshmallow test. Marshmallow adalah permen yang sangat disukai anak-anak di Amerika Serikat karena manis dan menyegarkan tenggorokan. Tes tersebut dilakukan kepada anak-anak usia sekitar 4 tahun. Satu per satu anak-anak itu ditempatkan dalam sebuah ruangan dengan 1 kursi dan 1 meja, dimana di atas meja diletakkan sebuah marshmallow. Lalu anak-anak itu diberitahu oleh sang profesor, bahwa dia akan ditinggalkan selama 15 menit. Kalau anak-anak itu bisa menahan diri untuk tidak langsung memakan marshmallow tersebut sampai sang profesor datang, akan mendapat sebuah marshmallow extra sebagai hadiah. Tetapi kalau tidak bisa menahan diri, diminta untuk menekan bell, dan Dr. Mischell akan datang untuk mengijinkannya memakan marshmallow yang ada, atau malah boleh langsung makan marshmallow tersebut. Ternyata hanya beberapa orang saja yang mampu untuk menahan diri dan mendapat hadiah tambahan sebuah marshmallow. Selanjutnya, anak-anak tersebut diikuti perkembangannya dari tahun ke tahun. Ternyata, anak-anak yang tidak bisa menahan diri umumnya mengalami kesulitan dalam belajar dan anak-anak yang mampu menahan diri jauh lebih sukses dibandingkan mayoritas anak-anak yang tidak bisa menahan diri.
Ilustrasi diatas adalah merupakan suatu gambaran kecil, dimana manusia sulit untuk bertahan dan menguasai diri adalah salah pekerjaan yang sulit. Mengapa ini kami katakan? Saat ini bangsa kita selalu memberitakan bagaimana hancurnya NKRI, salah satunya diakibatkan oleh para pemimpin yang tamak, tidak puas bahkan tidak lagi peduli dengan orang sekelilingnya. Dan ada juga istilah “TEBANG PILIH” dan  “HUKUM RIMBA” seolah-olah tidak ada lagi aturan yang memberikan keamanan dan ketentraman. Kesemua hal tersebut merupakan fenomena yang menghancurkan nilai-nilai sosial saat ini.
Dalam Injil Lukas 3.11-14, Yohanes Pembaptis mengatakan ”Jangan merampas...cukupkanlah hidupmu dengan gajimu”(ay 14). Nats ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita di Minggu Advnet ke tiga ini. Dimana kita harus mampu berbagi dan selalu mensyukuri apa yang kita miliki, artinya bahwa segala sesuatu yang ada kita miliki jika Tuhan memberkati akan menjadi kesempatan kita untuk menikmati hidup jauh lebih baik dan sempurna. Oleh banyak ahli disimpulkan bahwa orang-orang yang bisa menunda kenikmatan sesaat demi mendapatkan kenikmatan yang jauh lebih besar adalah orang-orang yang sabar atau mampu menahan diri (Self-Restraint), Fokus, mampu menetapkan mana yang prioritas dan mana yang bukan prioritas, serta memiliki pandangan yang jauh ke depan (the Long-Range View). Amin