Minggu, 03 Februari 2013

Sunat Tanda Perjanjian Allah


1. Pendahuluan

Sebagai warga Kristen yang beriman berarti kita adalah manusia yang berpengharapan di dalam Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus akan mendapatkan keselamatan, kasih karunia dan hidup yang kekal. Apakah yang menjadi alat keselamatan tersebut? Di dalam PL kita mengenal sunat (Kej 17.1-27), sedangkan dalam PB kita mengenal baptisan dan kita sebagai warga Kristen juga mengenal sunat. Akan tetapi tidak sampai disitu saja, namun bagaimana sebenarnya hubungannya dengan istilah "baptisan" di dalam PB atau yang kita kenal sekarang ini.

2. Arti dan makna Theologis Sunat sebagai Tanda Perjanjian menurut PL
Secara harafiah atau secara ratio kita, sunat itu dapat kita artikan secara praktis adalah pemotongan kulup kelamin atau membuang sebagian dari kelamin laki-laki. Berangkat dari Kej 17.1-27, disana telah diuraikan dengan jelas bahwa sunat merupakan tanda keanggotaan dalam perjanjian Allah dengan umatNya. Dalam ay 14 ditetapkan dengan tegas bahwa penyunatan menjadi suatu syarat mutlak untuk keanggotaan dalam jemaat, sebagai alat pengantara keselamatan dan barang siapa menolaknya tidak berhak atas keselamatan itu sendiri. Sunat menjadi tanda perjanjian yang dilakukan Allah dengan Abraham. Setiap laki-laki di dalam rumahnya dan menjadi kepunyaan Abraham haruslah disunat. Jika seseorang dari keturunan Abraham tidak memenuhi perintah Allah ini, maka ia memutuskan perjanjian dengan Allah ia akan dihukum, akan di basmi, ia akan mati oleh karena melanggar perintah Allah. Berdasarkan atas perjanjian tersebut, semua keturunan Abraham diharapkan akan taat kepada Allah, tidak hanya itu saja mereka akan diberikan keselamatan asal mereka mau disunat. Oleh karena itu sunat menjadi suatu tanda dari karya kasih karunia dimana Allah memilih dan menandai orang-orang milikNya.
Dalam PL bangsa Israel diharuskan menyunatkan anak laki-lakinya setelah berusia 8 hari. Tuhan yang memberikan peraturan tersebut kepada umatNya Israel karena itulah tanda dan cap. Tanda adalah sesuatu yang dapat dilihat untuk menggambarkan hal yang tidak dapat dilihat, dan cap adalah suatu pertanda yang menjamin ketulenan sesuatu. Adapun makna theologis atau arti dari sunat bagi orang Israel adalah:
1. Sebagai pengampunan dosa
Pemotongan dan pembuang kulup adalah lambang pembuangan dosa karena pada dasarnya manusia itu adalah kotor, najis dan jahat.
2. Sebagai lambang hidup baru kepada orang beriman
Suatu pertanda hati yang disunat yakni hati yang baru yang diberikan kepada orang beriman (lh Roma 2.29; Yes 4.4)
Tetapi walaupun demikian, sunat itu sendiri tidaklah menyelamatkan sebab yang menyelamatkan adalah iman. Sama halnya dengan Abraham, sebelum ia disunta ia sudah dibenarkan karena iman. Sunat tersebut hanyalah menjadi suatu tanda atau pengukuhan perjanjian Allah(lh Roma 4.11). Akan tetapi sunat memang bukan hanya suatu tanda atau ibarat semata-mata, sebab bersamaan dilaksanakan sunat itu Tuhan Allah berkenan memberikan pengukuhan, memberikan jaminan bahwa sama seperti kulup orang itu telah dibuang, demikian juga Tuhan Allah telah membuang dosa orang yang disunati jika ia percaya.

3. Sunat menurut PB
Dalam sunat seharusnya bangsa Israel hidup sebagai suatu bangsa yang dikuduskan maka seluruh hidupnya haruslah dipersembahkan kepada Allah. Tetapi semuanya itu mengakibatkan kesombongan bagi diri mereka. Mereka beranggapan bahwa mereka adalah bangsa yang dikuduskan, bangsa yang bersunat bangsa yang baik.
Di dalam PB sunat tersebut telah diperbaharui atau digantikan dengan "Baptisan Kudus". Pelayanan baptisan tidak asing lagi bagi lingkungan ibadah Yahudi seperti di Sinagoge yang dikenal dengan baptisan proselit yakni baptisan bagi orang-orang yang diinginkan memasuki agama Yahudi seperti orang kafir haruslah dibaptis atau dibersihkan dan disucikan.Hubungan antara baptisan kudus dengan sunat pada hakekatnya makna dan arti keduanya adalah sama saja. Baik sunat Perjanjian Allah, sehingga pada hakekatnya hanya berbentuk tandanya yang lainnya.

4. Kesejajaran Sunat dengan Baptisan
Sunat sebagai tanda perjanjian Allah dengan Abraham menjadi titik berangkat dari penjelasan dengan Abraham menjadi titik berangkat dari penjelasan dalam skop ini. Sunat menjadi tanda perjanjian kasih karunia dalam arti bahwa dengan sunat Abraham dan keturunannya masuk dalam perjanjian Allah yang didasari iman kepada Allah (bnd Rm 4.11). Bagaimana kesejajaran sunat tersebut dengan baptisan yang kita kenal sekarang ini. Dalam Kolose 2.11-12 dijelaskan bahwa orang percaya telah disunat yaitu dengan sunat Kristus yang dinyatakan dalam baptisan air. Ia telah dikuburkan dan dibangkitkan bersama Kristus dalam iman kepada Allah. Oleh karena itu berdasarkan Kej 17 dengan Kol 2.11-12 kita dapat menyimpulkan bahwa kesajajaran sunat dengan baptisan adalah: "Sunat telah digantikan dengan baptisan, sunat dalam PL dan baptisan dalam PB keduanya sama saja. Arti  theologiannya sama yaitu sebagai alat perjanjian atau tanda keselamatan untuk memperoleh kasih karunia dari Allah. Tetapi keduanya (baptisan dan sunat) tidak terlepas dari iman. Bukankah Abraham dibenarkan karena iman (Rm 4). 
Demikian juga dengan baptisan, memang baptisan itu sabagai perjanjian Allah kepada manusia untuk mendapatkan kesematan dan dasar dari segalanya ialah iman (Mrk 16.16) sebab dengan iman kita layak menerima baptisan kudus dan berkat tersebut hanya diberikan kepada orang beriman.
suatu rang tini

5. Arti dan Makna Baptisan bagi orang Kristen
Baptisan dalam bahasa Yunani disebut Babtizo yang artinya membasahi. Dewasa ini orang Kristen mengenal 2 jenis baptisan yaitu dengan cara memercikkan air ke atas kepada dan membenamkan atau menyelamkan. Dan kedua cara ini adalah sama saja, karena hal itu hanyalah sebagai soal praktis saja. 
Baptisan adalah alat keselamatan. Akan tetapi kita janganlah salah tanggap terhadap arti yang sebenarnya.Bukan berarti kalau kita dibaptis kita akan memperoleh keselamatan. Apa yang dikaruniakan oleh Tuhan Allah dengan perantaraan babtisan itu juga dikaruniakan dengan perantara iman. Yang berarti orang yang dibaptis tanpa beriman ia tidak akan beroleh keselamatan tersebut. Yang dituntut secara mutlak dari orang Kristen saat ini untuk mendapatkan keselamatan yang dikaruniakan Allah di dalam Kristus adalah iman. Baptisan dan iman keduannya menjadi alat orang beriman untuk mendapatkan keselamatan (Mrk 16.16).
Adapun makna dari baptisan itu adalah:
1. Orang yang percaya dibenarkan dan diberikan pengampunan dosa (Kis 2.38) sama halnya darah Kristus sebagai pertanda atau ditandai untuk memberi pengampunan dosa bagi orang.
2. Hidup dalam kelahiran yang baru dan memperoleh kemerdekaan dari Yesus, tidak lagi hidup dalam dosa
3. Tuhan memasukkan kita dalam perjanjian barunya sehingga kita wajib hidup sebagai anggota PB yang benar-benar yakni, hidup dengan azas memuliakan nama Tuhan baik secara individu maupun sebagai anggota tubuh Kristus (yang beribadah).
4. Satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua (Efs 4.4-6).

6. Refleksi (Baptisan HKBP)
Berangkat dari nats kita Kej 17.1-27 bahwa sunat itu sebagai tanda perjanjian yang kekal. Sunat tersebut haruslah diwariskan turun temurun. Sehingga di dalam PB sunat tersebut telah diperbaharui dengan baptisan. Dalam kitab Rm 2.17-29 ditekankan bahwa Paulus menasehati orang Yahudi supaya sunat bukan secara lahiriah tetapi bersunat secara rohani dan sunat di dalam hati (lht ay.29). Demikian juga halnya dengan warga Kristen saat ini, khususnya gereja HKBP supaya menginsafi bahwa Baptisan itu sebagai alat keselamatan untuk memperoleh kasih karunia dan hidup yang kekal. Janganlah baptisan ini dipakai hanya sebagai tradisi saja.
Menurut Agenda HKBP, baptisan dapat dibagi dalam 3 bagian atau jenis yaitu;
1. Baptisan anak-anak
Pesan Agung Tuhan Yesus dalam Mat 28.19-20 menjadi dasar bagi orang Kristen untuk melakukan pelayanan baptisan tersebut. HKBP saat ini cenderung melaksanakan pelayanan baptisan pada anak-anak. Melalui baptisan ini anak-anak sudah menjadi milik Kristus. Orang tua si anak meminta supaya anaknya itu dibaptis dan disinilah terdapat perjanjian orang tua agar dia bersedia membimbing anaknya dan menasehati supaya mengenal kasih Allah yang sudah diterima pada saat anak itu dibaptiskan. Dan berjanji supaya anak itu mengenal Pendidikan Agama Kristen Protestan, supaya dia menjadi warga yang hidup ditengah-tengah jemaat khususnya di depan Yesus Kristus.
Dalam baptisan anak-anak juga memerlukan kesadaran iman orang tua dan mereka ini harus mendidik anak-anaknya dalam iman, dan baptisan anak-anak merupakan suatu panggilan orang tua untuk bergaul dengan Allah dalam iman agar Allah memenuhi janji keselamatan yang akan diberikan kepada si anak.
2. Baptisan orang dewasa
Di dalam baptisan ini dia dituntut supaya mengakui dosanya dan tidak mengulanginya lagi supaya tidak kena penghukuman dan menuntut dia  agar menyesali atas dosa yang diperbuat selama belum dibaptis dan menuntut supaya ia meninggalkan dosa dan perbuatan yang tidak berkenan di hati Allah dan supaya menerima yesus Kristus sebagai penebus dosa manusia yang akan datang ke dunia ini.
3. Baptisan darurat
Baptisan darurat diberikan secara mendadak kepada orang yang akan meninggal dunia yang belum dibaptis, biasannya bayi atau orang yang sakit keras. Karena baptisan ini sifatnya tergesagesa maka setiap orang boleh membaptis. Tujuan daripada baptisan ini adalah untuk menyampaikan di bayi kepada Allah hidup atau mati supaya ia menjadi warga Kerajaan Allah.

7. Kesimpulan
Sunat yang merupakan tanda perjanjian Allah dengan Abraham (Kej 17) telah diperbaharui oleh PB sebagai "baptisan" (Kol 2.11-12). Dimana arti dan makna dari keduannya (sunat dan baptisan) adalah sama antara lain:
  1. Sebagai alat keselamatan untuk menerima janji-janji akan kasih karunia dari Allah
  2. Sebagai tanda dan materai bahwasannya kita ikut di dalam persekutuan Kristus dan untuk PL sebagai persekutuan warga Israel yang taat kepada Allah
  3. Sebagai pengampunan dosa karena melalui baptisan kita di bersihkan dari dosa-dosa sehingga kita beroleh hidup baru (Rm 6.3).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar